- Instagram @menkeuri
Menteri Keuangan Indonesia Bantah Proyeksi Bank Dunia, Yakin Ekonomi RI 2026 Tembus di Atas Target
Jakarta, tvOnenews.com - Pernyataan tegas datang dari Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang dirilis Bank Dunia. Menteri Keuangan Indonesia tersebut secara terbuka mengkritik prediksi yang menyebut ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,7% pada 2026.
Bagi Menteri Keuangan Indonesia, angka tersebut tidak hanya terlalu rendah, tetapi juga berpotensi menimbulkan sentimen negatif terhadap perekonomian nasional. Pemerintah sendiri melalui APBN 2026 menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4%, jauh di atas proyeksi lembaga internasional tersebut.
Menteri Keuangan Indonesia Soroti Ketidaksesuaian Data
Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai perhitungan yang digunakan Bank Dunia tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi Indonesia saat ini. Ia menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama yang diperkirakan sudah berada di kisaran 5,5% hingga 5,6%.
Menurut Menteri Keuangan Indonesia, jika rata-rata pertumbuhan ditarik turun hingga 4,7%, maka asumsi yang digunakan Bank Dunia seolah menggambarkan Indonesia akan mengalami penurunan tajam atau bahkan mendekati resesi di sisa tahun berjalan.
“Kalau triwulan pertama saja sudah di atas 5,5%, tidak masuk akal kalau rata-rata turun jauh. Saya pikir perhitungan mereka keliru,” tegas Menteri Keuangan Indonesia.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan optimisme Menteri Keuangan Indonesia terhadap fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih kuat.
Dampak Harga Minyak Jadi Sorotan Menteri Keuangan Indonesia
Menteri Keuangan Indonesia juga menyoroti faktor eksternal yang kemungkinan besar menjadi dasar proyeksi Bank Dunia, yakni kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik global.
Menurut Menteri Keuangan Indonesia, lonjakan harga energi memang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Namun, ia optimistis kondisi tersebut bersifat sementara dan akan kembali normal dalam waktu dekat.
Jika harga minyak kembali stabil, Menteri Keuangan Indonesia meyakini Bank Dunia akan merevisi proyeksinya. Bahkan, ia secara tegas menyebut proyeksi tersebut telah menciptakan persepsi negatif terhadap Indonesia.
“Kalau harga minyak turun lagi, mereka pasti ubah prediksinya. Tapi sekarang sudah terlanjur menimbulkan sentimen negatif,” ujar Menteri Keuangan Indonesia.
Menteri Keuangan Indonesia Fokus Jaga Iklim Investasi
Di tengah perbedaan proyeksi tersebut, Menteri Keuangan Indonesia menegaskan fokus utama pemerintah adalah menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan iklim investasi tetap kondusif.
Menteri Keuangan Indonesia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh kekuatan domestik seperti konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah.
Untuk itu, Menteri Keuangan Indonesia memastikan bahwa berbagai program strategis akan terus dijalankan, termasuk optimalisasi sektor keuangan agar mampu menopang pertumbuhan.
“Kita akan pastikan semua mesin ekonomi berjalan. Sistem keuangan juga harus siap mendukung pertumbuhan,” jelas Menteri Keuangan Indonesia.
Optimisme Menteri Keuangan Indonesia: Ekonomi Akan Terjaga
Meski mengakui adanya tantangan global, Menteri Keuangan Indonesia tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di jalur yang positif.
Ia bahkan menyebut bahwa strategi ekonomi yang diterapkan pemerintah memiliki pendekatan khas yang belum tentu sepenuhnya dipahami oleh lembaga internasional seperti Bank Dunia.
“Mungkin saja mereka benar, tapi saya yakin kondisi kita sudah membaik dan akan terus dijaga,” kata Menteri Keuangan Indonesia.
Optimisme ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan melalui kebijakan fiskal yang adaptif dan responsif terhadap dinamika global.
Bank Dunia Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia
Sebelumnya, Bank Dunia dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update edisi April 2026 memang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,8%.
Penurunan ini dipicu oleh sejumlah faktor, di antaranya:
-
Kenaikan harga minyak global
-
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah
-
Sentimen penghindaran risiko investor
Bank Dunia juga mencatat bahwa tekanan tersebut hanya sebagian diimbangi oleh penerimaan dari sektor komoditas dan program investasi pemerintah.
Menteri Keuangan Indonesia Hadapi Tantangan Global
Tidak hanya Indonesia, perlambatan juga diproyeksikan terjadi di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan regional berada di angka 4,1% pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya 4,4%.
Namun demikian, Menteri Keuangan Indonesia tetap melihat peluang di tengah tantangan global tersebut. Dengan strategi fiskal yang tepat, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.
Perbedaan pandangan antara Menteri Keuangan Indonesia dan Bank Dunia ini mencerminkan dinamika dalam membaca arah ekonomi global. Di satu sisi, lembaga internasional cenderung berhati-hati, sementara pemerintah Indonesia menunjukkan keyakinan tinggi terhadap kekuatan domestik. (nsp)