- Kadin Indonesia
Hadapi Ketidakpastian Global, Kadin Dorong Dunia Usaha Adaptif dan Perkuat Pasar Domestik
Jakarta, tvOnenews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Luar Negeri telah kembali menyelenggarakan forum Economic & Diplomacy Breakfast Meeting bertema "Eid al-Fitr Halal Bihalal Gathering" di Lippo Mall Nusantara pada Jumat (10/04/2026).
Dalam forum tersebut, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T Riady menyoroti kondisi global yang kian tidak stabil.
Ia menilai situasi ketidakpastian global ini menuntut pelaku usaha untuk semakin adaptif dalam menghadapi perubahan.
“Kita selalu akan menghadapi gejolak-gejolak yang makin hari makin lebih sering. Ini sudah menjadi suatu hal yang the new normal ya, normal yang baru ya. Jadi kita harus belajar bagaimana pintar untuk merespons dan pintar untuk menyesuaikan diri dengan situasi global yang ada,” kata James, dikutip Minggu (12/4/2026).
Pihaknya menyampaikan, meski tantangan jangka pendek masih membayangi, prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang tetap dinilai kuat.
Hal ini sejalan dengan pergeseran pusat ekonomi dunia dari kawasan Atlantik ke Pasifik.
“Di mana di Pasifik ini berarti Amerika (Serikat), China dan juga Indonesia,” terang James.
Menurutnya, posisi geografis Indonesia memberikan keunggulan strategis dalam jalur perdagangan internasional.
“Dan (Indonesia) memiliki strategi geografik yang luar biasa. Bentangan itu dari Barat sampai Timur itu kan naik pesawat itu 7 jam ya. Jadi perdagangan internasional banyak yang harus melalui Indonesia,” jelas James.
Ia menambahkan, meski dinamika global masih berfluktuasi dalam jangka pendek, langkah pemerintah dinilai cukup tepat dalam menjaga stabilitas nasional.
“Jadi kita melihat Indonesia ini tetap jangka panjang, jangka menengah luar biasa bagus. Jangka pendek ya kita melihat saja perkembangan di dunia seperti apa, kita menyesuaikan diri dan pemerintah telah mengambil sikap-sikap yang saya kira cukup bagus ya untuk menstabilkan situasi yang ada,” ungkapnya.
James T Riady juga menegaskan pentingnya kesiapan pelaku usaha dalam merespons perubahan global yang terus berkembang.
“Jadi satu hal yang penting sekali untuk perusahaan-perusahaan adalah kemampuan perusahaan-perusahaan untuk merespons terhadap situasi global yang terus berkembang secara dinamis,” katanya.
Lebih lanjut, dirinya mengingatkan bahwa tekanan global seperti inflasi dan kenaikan suku bunga merupakan tantangan yang sulit dihindari.
“Yaitu sudah pasti inflasi seluruh dunia ini akan naik. Sudah pasti suku bunga rendah sudah menjadi sulit,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, pengusaha berusia 59 tahun itu mendorong pelaku usaha untuk memaksimalkan sektor yang relatif tahan terhadap gejolak, terutama pasar domestik.
“Dan karena itulah harus mencari peluang-peluang yang anti-inflasi, yang anti-siklikal berarti ya pasar domestik. Jadi pasar domestik itu harus dikembangkan, konsumsi domestik itu harus dikembangkan,” jelasnya.
Bos Lippo Group itu juga menilai sejumlah program pemerintah yang berfokus pada konsumsi dalam negeri sebagai langkah strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Dan beberapa inisiatif Presiden itu sangat-sangat penting. Program MBG (Makan Bergizi Gratis) umpamanya itu kan sangat penting karena adalah domestic consumption. Perumahan umpamanya itu juga sangat-sangat penting sekali kan. Pariwisata ini juga dalam negeri semua. Jadi ini beberapa inisiatif dari pemerintah dan saya kira yang sangat-sangat bagus,” pungkasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pengurus Kadin Indonesia, antara lain Wakil Ketua Umum Bidang Diplomasi Multilateral Andi Anzhar Cakra Wijaya, Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Infrastruktur Strategis dan Pembangunan Pedesaan serta Transmigrasi Thomas Jusman, Wakil Ketua Umum Bidang Pemasaran, Promosi, Inovasi dan Pengembangan Produk UMKM Rifda Ammarina, serta Wakil Ketua Umum Bidang Antar Lembaga dan Pemerintahan Daerah Junaidi Elvis.
Selain itu, hadir pula para Ketua Umum Kadin daerah, di antaranya Muhammad Iqbal Piyeung, Buchari Bachter, Ritchie Glen Yapranadi, dan M. Nur Rahmatu. (rpi)