- Instagram/jeromepolin
Menantea Milik Jerome Polin Resmi Tutup 25 April 2026, Ini Penyebab dan Pelajaran Besarnya
Menurut Jehian, salah satu faktor utama kegagalan Menantea adalah kurangnya kesiapan dalam mengelola bisnis, terutama dalam memilih partner.
Ia mengakui bahwa tim Menantea kurang melakukan riset mendalam terhadap mitra bisnis yang diajak bekerja sama. Selain itu, pengawasan internal seperti audit keuangan juga tidak dilakukan secara rutin.
“Kami belum siap menghadapi sisi gelap dunia bisnis. Kami kurang melakukan background research terhadap calon partner bisnis, dan tidak rutin melakukan audit internal,” jelasnya.
Seiring waktu, berbagai kesalahan operasional dalam Menantea mulai terungkap dan berdampak pada keberlangsungan usaha.
Jerome Polin: Jangan Mudah Percaya dalam Bisnis
Jerome Polin juga turut memberikan pernyataan terkait penutupan Menantea. Ia menyebut bahwa pengalaman ini menjadi pelajaran besar dalam perjalanan kariernya sebagai pebisnis.
Menurut Jerome, salah satu kesalahan terbesar dalam menjalankan Menantea adalah terlalu mudah percaya kepada pihak lain tanpa pemahaman mendalam terhadap sistem bisnis.
“Biggest lesson: Jangan gampang percaya sama orang, meskipun kelihatannya sudah berpengalaman,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami bisnis secara menyeluruh serta membuat kontrak kerja sama yang jelas sejak awal. Hal ini menjadi refleksi penting dari perjalanan Menantea yang akhirnya harus berakhir.
Persaingan Ketat Jadi Tantangan Menantea
Selain faktor internal, Menantea juga harus menghadapi persaingan bisnis minuman kekinian yang semakin ketat. Dalam beberapa tahun terakhir, industri ini dipenuhi oleh berbagai brand baru dengan inovasi produk dan strategi pemasaran yang agresif.
Kondisi ini membuat Menantea harus bersaing tidak hanya dari sisi produk, tetapi juga efisiensi operasional dan manajemen bisnis.
Sayangnya, kombinasi antara tekanan eksternal dan masalah internal membuat Menantea tidak mampu bertahan lebih lama.
Menantea Tutup, Pelanggan Beri Respons Emosional
Kabar penutupan Menantea langsung memicu reaksi dari pelanggan setia di media sosial. Banyak yang mengaku sedih karena brand ini memiliki nilai emosional tersendiri, terutama bagi penggemar Jerome Polin.
Sebagian pelanggan juga memanfaatkan momen promo terakhir untuk kembali membeli produk Menantea sebagai bentuk nostalgia.
Penutupan Menantea menjadi bukti bahwa popularitas tidak selalu menjamin keberlangsungan bisnis, terutama jika tidak diimbangi dengan manajemen yang kuat. (nsp)