- Antara
Rupiah Tertekan ke Rp17.275 per Dolar AS, Gejolak Global dan Minyak Dorong Pelemahan
Ketika suku bunga global tinggi, aliran modal cenderung keluar dari negara berkembang, sehingga menekan rupiah lebih dalam.
Sentimen Tambahan: UAE Keluar dari OPEC
Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari OPEC dan OPEC+ mulai 1 Mei 2026.
Keputusan ini menambah ketidakpastian pasar energi global. Bagi rupiah, kondisi ini berarti tambahan tekanan karena potensi volatilitas harga minyak yang semakin tinggi.
Josua menyebut keputusan tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi, yang pada akhirnya berdampak langsung pada rupiah.
Pergerakan Rupiah Masih Terbatas
Dengan berbagai tekanan tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih berada dalam rentang terbatas. Analis memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.325 per dolar AS.
Kisaran ini menunjukkan bahwa rupiah masih berada dalam fase konsolidasi, namun dengan kecenderungan melemah jika sentimen global tidak membaik.
Pelaku pasar saat ini cenderung bersikap wait and see terhadap perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global, yang akan sangat menentukan arah rupiah ke depan.
Rupiah Masih Rentan Tekanan Eksternal
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah hari ini menegaskan bahwa faktor eksternal masih menjadi penentu utama pergerakan nilai tukar. Mulai dari konflik geopolitik, harga minyak, hingga kebijakan bank sentral global, semuanya berkontribusi terhadap arah rupiah.
Dalam kondisi seperti ini, stabilitas rupiah sangat bergantung pada meredanya ketegangan global dan kepastian kebijakan ekonomi internasional.
Selama ketidakpastian masih tinggi, rupiah berpotensi tetap berada di bawah tekanan, meskipun intervensi dan kebijakan domestik terus dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar. (ant/nsp)