news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi rupiah..
Sumber :
  • Antara

Rupiah Mulai Bangkit usai Tertekan Tajam, Sentimen Iran dan Ekonomi RI Jadi Penopang

Rupiah mulai menguat ke Rp17.390 per dolar AS usai sempat melemah tajam. Sentimen Iran dan pertumbuhan ekonomi RI jadi penopang rupiah.
Rabu, 6 Mei 2026 - 14:20 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah mulai menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu pagi setelah sebelumnya sempat ditutup melemah tajam. Pergerakan rupiah yang perlahan pulih ini dipengaruhi sentimen global hingga optimisme pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Pada perdagangan Rabu, rupiah tercatat menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.390 per dolar AS. Posisi tersebut membaik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.424 per dolar AS.

Penguatan rupiah menjadi sorotan pasar setelah beberapa waktu terakhir mata uang Garuda mengalami tekanan akibat ketidakpastian geopolitik global dan penguatan indeks dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan penguatan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik Iran.

Menurut dia, pasar merespons positif pernyataan Trump yang menyebut intensitas serangan terhadap Iran akan diturunkan. Kondisi itu membuat harga minyak dunia dan indeks dolar AS mulai melandai sehingga memberikan ruang penguatan bagi rupiah.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat mengikuti penguatan mayoritas mata uang regional yang dibuka menguat seiring dengan melandainya harga minyak dan index dollar akibat pernyataan Presiden Trump bahwa intensitas serangan ke Iran akan diturunkan,” ujar Rully Nova kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Rupiah Menguat Ditopang Redanya Ketegangan Iran

Mengutip laporan Sputnik, Donald Trump disebut memutuskan menunda Project Freedom, yaitu proyek yang bertujuan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Penundaan tersebut dilakukan untuk membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Kebijakan itu dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pasar keuangan global sebelumnya sempat khawatir konflik Iran dapat mengganggu distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz. Kekhawatiran tersebut sempat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Namun setelah ketegangan mulai mereda, rupiah perlahan mendapatkan sentimen positif. Investor mulai kembali masuk ke aset-aset emerging market setelah tekanan global berkurang.

Faktor Domestik Ikut Dorong Penguatan Rupiah

Selain sentimen global, penguatan rupiah juga didukung faktor domestik yang cukup kuat. Salah satunya berasal dari optimisme pasar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai solid.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Angka tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi tertinggi Indonesia dalam empat tahun terakhir dan memberikan dorongan positif terhadap pergerakan rupiah di pasar keuangan.

Pelaku pasar menilai data pertumbuhan ekonomi tersebut memperlihatkan daya tahan ekonomi domestik masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, pasar juga mulai berspekulasi adanya peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia pada kuartal ini. Harapan tersebut ikut menopang pergerakan rupiah karena dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

Rupiah Masih Dibayangi Tantangan Global

Meski rupiah mulai bergerak menguat, tekanan eksternal dinilai masih perlu diwaspadai. Pergerakan rupiah ke depan masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik global, arah kebijakan suku bunga AS, serta pergerakan harga minyak dunia.

Ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor global karena dapat memicu lonjakan harga energi dan kembali menekan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, penguatan dolar AS juga masih menjadi faktor yang dapat membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Namun, membaiknya sentimen pasar global serta data ekonomi domestik yang positif memberi harapan bahwa rupiah dapat bergerak lebih stabil setelah mengalami tekanan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Pertumbuhan Ekonomi Jadi Sentimen Positif Rupiah

Meski ekonomi Indonesia tumbuh tinggi secara tahunan, BPS juga mencatat pertumbuhan ekonomi secara triwulanan mengalami kontraksi.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tercatat terkontraksi sebesar 0,77 persen secara quarter-to-quarter (qtq) dibandingkan triwulan IV 2025.

Meski demikian, pasar tetap merespons positif capaian pertumbuhan tahunan tersebut. Kondisi itu ikut membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan situasi geopolitik dunia untuk melihat arah pergerakan rupiah dalam perdagangan selanjutnya. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:17
01:53
05:06
05:41
00:54
07:47

Viral