- Antara
IHSG Ditutup Anjlok 1,43 Persen ke 6.807 Pukul 16.00 WIB, Pasar Masih Menunggu Pengumuman MSCI Malam Ini
Rupiah Melemah dan Konflik Timur Tengah Tambah Tekanan
Tekanan terhadap IHSG juga datang dari faktor eksternal, terutama memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan gagalnya gencatan senjata dengan Iran memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas kawasan.
Ketegangan di Selat Hormuz ikut mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat ke level 98,115, sementara rupiah terus melemah hingga menyentuh Rp17.503 per dolar AS pada perdagangan pagi.
Kondisi tersebut membuat investor asing semakin agresif melakukan aksi jual di pasar saham domestik.
Sektor Teknologi Jadi Beban IHSG
Selain faktor eksternal, tekanan besar juga datang dari sektor teknologi yang mengalami koreksi cukup dalam.
Laporan CNBC Indonesia menyebut sektor teknologi terkoreksi hingga 5,07 persen dan menjadi salah satu pemberat utama pergerakan IHSG hari ini.
Pelemahan sektor teknologi memperbesar tekanan terhadap indeks yang sebelumnya sudah terbebani sentimen negatif global dan penurunan nilai tukar rupiah.
Analis Soroti Area Support IHSG
BRI Danareksa Sekuritas menyebut IHSG saat ini sedang menguji area support teknikal penting.
Menurut analis BRI Danareksa, peluang rebound masih terbuka apabila level support mampu bertahan. Namun jika level tersebut ditembus, maka risiko pelemahan lanjutan akan semakin besar.
“Selama level tersebut bertahan, peluang rebound masih terbuka, namun jika ditembus maka risiko pelemahan lanjutan akan meningkat,” jelas analis BRI Danareksa.
Pasar juga masih mencermati data ekonomi domestik, termasuk penjualan ritel dan arah kebijakan pemerintah di tengah tekanan ekonomi global.
OJK dan BEI Sebut Koreksi Hanya Sementara
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menilai fluktuasi pasar saat ini merupakan bagian dari proses penguatan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
Menurutnya, koreksi yang terjadi saat ini bersifat sementara.
“Kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai short term pain lah. Tapi Insya Allah long term gain,” ujar Friderica.