news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gedung Bank Indonesia.
Sumber :
  • dok. Bank Indonesia

Rupiah Rp17.500 per Dolar AS, Bank Indonesia: Perang Timur Tengah dan Lonjakan Permintaan Dolar Jadi Biang Kerok

Bank Indonesia (BI) mengatakan bahwa tekanan terhadap mata uang rupiah meningkat tajam akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang datang bersamaan.
Selasa, 12 Mei 2026 - 19:25 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar mata uang rupiah menembus level Rp17.510 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026), memicu kekhawatiran pasar di tengah memanasnya konflik geopolitik Timur Tengah dan melonjaknya kebutuhan dolar di dalam negeri.

Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait pelemahan tajam rupiah yang dinilai bukan sekadar gejolak biasa. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengakui, tekanan terhadap rupiah meningkat tajam akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang datang bersamaan.

“Tekanan Rupiah dalam hari ini meningkat karena Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangan resminya, Selasa (11/5/2026).

Di pasar, rupiah dibuka melemah 69 poin atau 0,40 persen ke posisi Rp17.483 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS. Namun tekanan tidak berhenti di situ.

Berdasarkan data wise.com pukul 10.20 WIB, rupiah bahkan sempat ambruk ke level Rp17.510 per dolar AS—salah satu titik terlemah dalam sejarah perdagangan modern Indonesia.

BI menilai gejolak global menjadi pemicu utama derasnya arus tekanan ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Konflik Timur Tengah yang terus memanas membuat harga minyak dunia melonjak dan mendorong investor global memburu aset safe haven berbasis dolar AS.

Namun bukan hanya faktor eksternal. Dari dalam negeri, permintaan dolar juga meningkat signifikan akibat kebutuhan musiman yang datang bersamaan.

“Dari domestik, meningkatknya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran ULN (Utang Luar Negeri) dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik,” kata Destry.

Kondisi tersebut membuat pasar valas domestik mengalami tekanan berlapis. Permintaan dolar yang tinggi di tengah ketidakpastian global memicu pelemahan rupiah lebih dalam, sekaligus meningkatkan kewaspadaan otoritas moneter.

Meski begitu, BI memastikan tidak tinggal diam. Bank sentral menegaskan akan terus turun langsung ke pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen intervensi.

“BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) maupun NDF (Non-Deliverable Forward) dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah,” tegasnya.

Di tengah gejolak tersebut, BI mencoba memberi sinyal optimisme. Menurut Destry, kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan Indonesia justru mulai menunjukkan perbaikan.

“BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp61,6 triliun,” ujarnya.

Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik juga disebut masih cukup kuat. BI mencatat pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas pada akhir Maret 2026 mencapai 10,9 persen secara year to date.

Dengan berbagai langkah intervensi yang dilakukan, BI meyakini tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan akan mereda setelah faktor musiman berakhir.

“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” tutup Destry. (agr/rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:10
01:22
05:11
01:38
03:33
22:38

Viral