- Shutterstock
Harga Minyak dan Rupiah Diguncang Gejolak Global, Pakar Analisis Dampaknya ke Harga BBM
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus melemah pada pertengahan Mei 2026 dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Pada penutupan Kamis kemarin saja, Mata Uang Garuda berada di posisi Rp17.529 per USD.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas), Profesor Hamid Paddu, menyebut pelemahan rupiah bisa berdampak besar terhadap bahan baku impor, termasuk harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Menurutnya, kondisi itu sangat bisa terjadi karena Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak sejak 2004. Ia menjelaskan, produksi minyak dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 650 ribu barel per hari. Dengan kata lain, lebih dari separuh kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi lewat impor.
“Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dollar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” kata Hamid dalam analisisnya, Jumat (15/5/2026).
Hamid menjelaskan, akibat gejolak global, pelemahan nilai tukar dan kenaikan harga minyak dunia saat ini telah melampaui asumsi dalam APBN 2026. Dalam APBN, asumsi kurs ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar, sedangkan harga minyak dunia diasumsikan berada di level US$70 per barel. Namun saat ini, harga minyak disebut sudah mencapai US$105 per barel.
“Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs,” lanjutnya.
Menurut Hamid, kondisi tersebut membuat penyesuaian harga BBM nonsubsidi oleh badan usaha, termasuk Pertamina, menjadi hal yang wajar. Ia juga memprediksi pelemahan Rupiah masih akan berlanjut hingga akhir tahun.
“Itu otomatis, karena ini kan market. Jadi harga jual BBM nonsubsidi tidak dicampuri Pemerintah. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM Non Subsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM,” lanjut Hamid.
Ia menilai, jika badan usaha tidak menaikkan harga BBM nonsubsidi, dampaknya justru akan sangat berat terhadap kondisi keuangan perusahaan, terutama Pertamina. Beban impor minyak akan meningkat seiring tingginya nilai tukar Dolar AS.