- istimewa - antaranews
Margin Bank Menyusut dan Beban Operasional Naik, OJK Beberkan Tekanan Baru Industri Perbankan
Jakarta, tvOnenews.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap industri perbankan nasional tengah menghadapi tekanan ganda di tengah tren penurunan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) dan meningkatnya rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).
Meski begitu, regulator memastikan kondisi profitabilitas bank masih berada dalam kategori aman dan stabil.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, penurunan NIM dan kenaikan BOPO saat ini masih dinilai wajar sesuai kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga nasional.
“Secara umum OJK memandang bahwa kinerja NIM dan BOPO saat ini masih sesuai dengan situasi dan kondisi ekonomi,” ujar Dian dalam keterangan tertulis Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Minggu (17/5/2026).
Menurut OJK, pergerakan NIM dan BOPO dipengaruhi banyak faktor, mulai dari tingkat suku bunga acuan, efisiensi biaya dana atau cost of fund, struktur kredit, permintaan pembiayaan, hingga profil risiko bank dan nasabah.
“Kinerja NIM dan BOPO perbankan bergantung pada berbagai faktor, di antaranya suku bunga acuan, efisiensi biaya dana (cost of fund), struktur kredit, permintaan kredit/pembiayaan, serta profil risiko bank dan nasabah,” jelas Dian.
Data OJK menunjukkan NIM perbankan pada Maret 2026 berada di level 4,38 persen, turun dibandingkan posisi Maret 2025 yang mencapai 4,51 persen.
Di saat bersamaan, rasio BOPO justru meningkat menjadi 86,96 persen pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan 85,84 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski margin bunga mulai menyusut, OJK menilai kondisi tersebut mencerminkan upaya industri perbankan menurunkan bunga kredit agar pembiayaan menjadi lebih murah dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Penurunan NIM yang juga sejalan dengan penurunan suku bunga perbankan menandakan upaya bank untuk menekan suku bunga kredit, sehingga biaya kredit menjadi lebih murah dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Dian.
OJK memperkirakan tren penurunan NIM tidak akan berlangsung agresif. Regulator menilai margin bunga bank masih akan bergerak stabil dan moderat selama transmisi penurunan suku bunga berjalan efektif dan pertumbuhan kredit tetap terjaga.
“Selanjutnya OJK memproyeksikan bahwa ke depan NIM perbankan masih akan berada dalam level yang stabil dan moderat, dalam hal transmisi suku bunga berjalan efektif dan pertumbuhan kredit meningkat,” ujarnya.
Di tengah kenaikan BOPO, OJK meminta perbankan mulai memperkuat efisiensi operasional agar profitabilitas tidak hanya bergantung pada selisih bunga kredit dan dana pihak ketiga semata.
“OJK juga senantiasa mendorong bank untuk mengedepankan efisiensi operasional, sehingga mendorong penurunan BOPO dan pengelolaan risiko kredit yang baik sebagai strategi menjaga profitabilitas secara berkelanjutan dan tidak semata mengandalkan spread bunga,” jelas Dian.
Regulator memastikan akan terus mengawasi perkembangan industri perbankan agar keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan stabilitas keuangan tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
“OJK terus memantau perkembangan terkini guna memastikan industri perbankan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan yang berkelanjutan dan profitabilitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” tutupnya. (agr/aag)