news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber :
  • Abdul Gani Siregar

Rupiah Anjlok Rp17.600 per Dolar AS, Purbaya Minta Publik Jangan Panik: Ekonomi Justru Tumbuh 5,6 Persen

Purbaya menyebut pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan rapuhnya ekonomi domestik. Ia memastikan kondisi fiskal pemerintah tetap sehat dan APBN terkendali.
Senin, 18 Mei 2026 - 18:58 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Di tengah tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.658 per dolar Amerika Serikat (AS), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik.

Pemerintah menegaskan fondasi ekonomi nasional masih kuat, bahkan mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia justru melaju kencang saat ekonomi global sedang terguncang.

Purbaya menyebut pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan rapuhnya ekonomi domestik. Ia memastikan kondisi fiskal pemerintah tetap sehat dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam jalur yang terkendali.

“Fundamental ekonomi kita bagus, fiskal kita bagus. Besok saya akan jumpa pers masalah APBN. APBN kita yang sebagian majalah ekonomi bilang berantakan. Nggak, kita bagus sekali. Dan mereka nggak ngerti apa yang kita kerjakan,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

Pernyataan itu disampaikan saat pasar keuangan domestik berada dalam tekanan berat. Nilai tukar dolar AS tercatat melonjak ke level Rp17.658 atau menguat 61 poin (0,35 persen) pada pukul 09.10 WIB. Posisi tersebut menjadi titik terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Di tengah gejolak tersebut, Purbaya menilai strategi ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto justru mulai menunjukkan hasil nyata. Ia membantah anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya ditopang oleh belanja negara.

Menurutnya, sektor swasta mulai bergerak agresif sehingga menciptakan mesin pertumbuhan baru bagi ekonomi nasional.

“Strategi kita bukan hanya belanja pemerintah, tapi kita juga mengaktifkan sektor swasta. Makanya pertumbuhan ekonomi bisa 5,6 (persen) triwulan pertama karena swasta juga mulai bergerak, bukan hanya government saja,” katanya.

Purbaya bahkan membeberkan komposisi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebutnya masih ditopang kuat oleh konsumsi masyarakat.

“Ada yang bilang kan, itu pertumbuhannya rentan gara-gara hanya didukung oleh belanja pemerintah, ada tumbuh 5,6. Kalau kita lihat dengan pangsanya, sebenarnya kalau lihat dari 5,6 itu, mungkin 2,9 dari belanja konsumen, 1,7 dari investasi, 1,3 itu dari belanja pemerintah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kontribusi ekspor-impor juga masih menjadi faktor pendukung menuju target pertumbuhan ekonomi enam persen.

“Sisanya nanti ke arah 6 persen ada juga ekspor-impor ya. Jadi gitu caranya. Jadi yang masih… yang men-drive dan memberi kontribusi penyumbang terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, daya belinya masih cukup bagus,” ucap Purbaya.

Karena itu, Menkeu meminta masyarakat tetap tenang menghadapi tekanan global yang sedang mengguncang pasar keuangan dunia. Pemerintah, kata dia, akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap melaju lebih cepat.

“Jadi jangan khawatir. Kita betul-betul memperbaiki ekonomi dan sudah kelihatan di triwulan keempat (2025) dan triwulan pertama tahun ini kita sudah tumbuh semakin cepat dan kita akan jaga terus supaya lebih cepat lagi,” tegasnya.

Purbaya juga menyebut capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6 persen pada kuartal pertama 2026 sebagai prestasi besar di tengah ketidakpastian global.

“Anda ingat, triwulan pertama kita tumbuh 5,6 ketika perekonomian global lagi goncang. Jadi itu suatu prestasi yang luar biasa karena kebijakan Pak Presiden melakukan reformasi betul-betul dilakukan sebelum ada negative shock dari global. Jadi strategi pembangunannya amat baik dari Bapak Presiden,” pungkasnya. (agr/rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:47
09:31
02:23
02:56
07:21
03:23

Viral