- Antara
Rupiah Hari Ini 26 Mei 2026 Melemah di Rp17.749, Pasar Masih Khawatirkan Fiskal RI dan Kebijakan Ekspor via DSI
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.743 pada 25 Mei 2026.
Posisi rupiah melemah 26 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.717 pada perdagangan 22 Mei 2026.
Adapun perdagangan di pasar spot pada 26 Mei 2026 hingga pukul 09.02 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp17.749 per dolar AS.
Posisi itu melemah 5 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.
Menurut Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, rupiah diperkirakan masih akan melemah dipengaruhi sentimen domestik maupun global yang dinilai belum sepenuhnya kondusif bagi pasar keuangan Indonesia.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai isu defisit anggaran masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Meskipun harga minyak dunia mengalami penurunan, hal tersebut belum mampu mendorong sentimen positif terhadap rupiah.
Menurut Ibrahim, permasalahan defisit anggaran jadi momok bagi pasar.
Walaupun harga minyak mengalami penurunan, hal itu masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah.
Dia juga turut menyoroti kondisi mata uang negara-negara kawasan yang justru bergerak menguat, sementara rupiah masih berada di zona merah.
“Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau tapi Indonesia memerah,” kata Ibrahim, Selasa (26/5/2026).
Di samping itu, pidato Presiden Prabowo Subianto terkait kebijakan ekspor komoditas melalui satu pintu (DSI) juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor global.
Menurutnya, kebijakan itu berpotensi memicu penilaian negatif dari lembaga pemeringkat internasional.
Dia menyebut pidato Presiden Prabowo mengenai masalah ekspor untuk komoditas satu pintu melalui Danantara juga membuat banyak kecaman terhadap pemeringkat internasional.
Kemungkinan besar lembaga seperti S&P Global dan lain-lainnya akan menurunkan rating utang pemerintah Indonesia.
Sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap kurang ramah terhadap pasar menjadi faktor tambahan yang menekan pergerakan rupiah.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.740—Rp 17.800," ujarnya.
Dari sisi eksternal, Ibrahim melihat terdapat sentimen positif maupun negatif yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Salah satu sentimen positif datang dari optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Pasar memandang hubungan kedua negara mulai menunjukkan perkembangan positif meskipun masih terdapat sejumlah isu krusial yang belum terselesaikan termasuk terkait Selat Hormuz.
“Yang positifnya itu adalah pasar optimistis bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun masih ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang Selat Hormuz,” pungkasnya. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)