news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi emas..
Sumber :
  • Istimewa

Rusia Diam-Diam Lepas Cadangan Emas Terbesar sejak 2002, Tekanan Perang Ukraina Jadi Pemicu

Rusia mulai menjual cadangan emas dalam jumlah besar di tengah tekanan perang Ukraina, defisit anggaran membengkak, dan melemahnya pendapatan energi.
Selasa, 26 Mei 2026 - 16:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Aksi jual emas besar-besaran oleh bank sentral dunia kembali menjadi perhatian pasar global. Kali ini, Rusia mulai melepas sebagian cadangan emas negaranya di tengah tekanan ekonomi akibat perang Ukraina, membengkaknya defisit anggaran, dan turunnya pendapatan dari sektor energi.

Langkah tersebut menjadi sorotan karena selama dua dekade terakhir Rusia dikenal sebagai salah satu pembeli emas terbesar dunia. Kebijakan itu sebelumnya dilakukan untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Namun kini, strategi tersebut mulai berubah. Data terbaru menunjukkan Rusia justru mulai mengurangi kepemilikan emasnya dalam jumlah besar.

Cadangan Emas Rusia Turun Tajam

Mengutip data Bank Sentral Rusia (CBR), cadangan emas negara tersebut per 1 Mei 2026 tercatat turun menjadi 73,9 juta ons troi. Dalam satu bulan terakhir saja, Rusia diketahui melepas sekitar 200 ribu ons emas.

Secara keseluruhan, sejak awal tahun cadangan emas Rusia telah menyusut sekitar 900 ribu ons atau setara 27,9 ton. Penurunan ini menjadi yang terbesar sejak 2002 dan membuat posisi cadangan emas Rusia turun ke level terendah sejak Maret 2022.

Penurunan tersebut dinilai berkaitan erat dengan tekanan ekonomi yang terus membayangi Rusia akibat perang Ukraina dan sanksi internasional dari negara-negara Barat.

Selama ini, emas menjadi salah satu aset penting bagi Rusia untuk menjaga stabilitas keuangan negara di tengah pembatasan akses terhadap sistem keuangan global. Namun kondisi fiskal yang semakin tertekan membuat pemerintah mulai memanfaatkan cadangan tersebut.

Defisit Anggaran Jadi Alasan Utama

Analis Freedom Finance Global Natalia Milchakova mengatakan, penjualan emas dilakukan untuk membantu menutup defisit anggaran pemerintah Rusia yang mencapai 4,6 triliun rubel hingga akhir Maret 2026.

Menurutnya, tanpa dukungan dari bank sentral di tengah melemahnya pendapatan minyak dan gas, defisit anggaran Rusia berpotensi melampaui 5 triliun rubel.

Selain untuk menutup kebutuhan anggaran, Rusia juga disebut menjual emas guna memperkuat cadangan devisa asing, khususnya yuan China. Langkah ini dilakukan setelah pendapatan ekspor Rusia melemah pada awal tahun.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan besar yang kini dihadapi ekonomi Rusia. Pendapatan energi yang selama ini menjadi tulang punggung keuangan negara mulai mengalami perlambatan, sementara kebutuhan pembiayaan negara terus meningkat.

Permintaan Emas di Rusia Justru Melonjak

Di tengah aksi penjualan cadangan emas oleh pemerintah, permintaan emas domestik di Rusia justru mengalami lonjakan signifikan.

Data Moscow Exchange mencatat volume transaksi emas pada April 2026 melonjak lebih dari 350 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 42,6 ton.

Dalam denominasi rubel, nilai transaksi emas bahkan melesat hampir 500 persen menjadi 534,4 miliar rubel atau setara sekitar US$7,1 miliar.

Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya minat masyarakat Rusia terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan geopolitik yang berkepanjangan.

Analis Finam Nikolai Dudchenko menilai fenomena ini juga terjadi di banyak negara berkembang. Menurutnya, sejumlah bank sentral kini mulai menjual emas untuk membiayai kebutuhan fiskal, pengeluaran pertahanan, hingga menjaga stabilitas mata uang domestik.

Nilai Cadangan Emas Tetap Naik

Meski jumlah cadangan emas Rusia menyusut, nilai total kepemilikan emas negara itu justru meningkat seiring reli harga emas global.

Pada Januari 2026 lalu, nilai cadangan emas Rusia tercatat naik 23 persen menjadi US$402,7 miliar setelah harga emas dunia sempat menyentuh rekor tertinggi.

Saat ini, harga emas dunia tercatat menguat tipis sebesar 0,09 persen ke level US$4.573,95 per ons troi.

Meski dalam satu bulan terakhir harga emas turun sekitar 2,26 persen, nilainya masih melonjak 36,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bahkan pada Januari 2026, harga emas dunia sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) di level US$5.608,35 per ons troi.

Kenaikan harga emas global tersebut membuat nilai aset emas yang dimiliki Rusia tetap meningkat meski volume cadangannya mengalami penurunan.

Ekspor Emas Rusia ke China Naik Tajam

Di sisi lain, ekspor emas Rusia ke China terus menunjukkan peningkatan signifikan. Laporan Bloomberg sebelumnya menyebut ekspor logam mulia Rusia ke China melonjak hampir dua kali lipat sepanjang semester I-2025.

China sendiri saat ini menjadi mitra dagang utama Rusia di tengah tekanan sanksi dari negara-negara Barat.

Rusia juga masih tercatat sebagai produsen emas terbesar kedua dunia setelah China dengan produksi tahunan di atas 300 ton.

Sementara itu, permintaan emas ritel domestik di Rusia juga mencetak rekor tertinggi pada 2024. Konsumen Rusia membeli sekitar 75,6 ton emas sepanjang tahun lalu atau setara seperempat produksi emas nasional negara tersebut.

Lonjakan permintaan tersebut memperlihatkan emas kini semakin dipandang sebagai aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan geopolitik yang terus berlangsung. (nsp)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:36
04:36
05:49
03:15
02:13
01:30

Viral