- Antara
Ternyata Oh Ternyata, Rupiah Sempat Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini, Tapi Berbalik Turun Lagi
“Kondisi tersebut membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Ibrahim.
Harga Energi dan Inflasi Global Jadi Sorotan
Ibrahim menilai kenaikan harga energi global akibat konflik geopolitik juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dunia.
Situasi itu membuat ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.
Akibatnya, dolar AS terus mendapat dukungan dari pasar global, sementara mata uang negara berkembang mengalami tekanan.
Faktor yang Menekan Rupiah
Beberapa faktor yang disebut memicu pelemahan rupiah antara lain:
-
Konflik geopolitik AS dan Iran
-
Kekhawatiran gangguan distribusi minyak dunia
-
Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed
-
Arus modal keluar dari negara berkembang
-
Kebutuhan impor minyak dalam negeri
-
Pembayaran dividen dan utang jatuh tempo
Faktor Domestik Turut Tekan Rupiah
Selain sentimen global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri.
Ibrahim menyebut meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Di samping itu, pembayaran dividen perusahaan dan kewajiban utang jatuh tempo juga meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik.
Pelaku pasar disebut masih terus mencermati kondisi fiskal nasional dan efektivitas sejumlah program pemerintah yang dinilai dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.
Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar dalam beberapa waktu terakhir.
BI Dinilai Sudah Maksimal Intervensi
Bank Indonesia (BI) disebut terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun menurut Ibrahim, tekanan pasar yang terjadi saat ini membuat ruang stabilisasi rupiah menjadi semakin terbatas.
“BI sudah melakukan intervensi semaksimal mungkin, tetapi tekanan pasar memang masih cukup besar,” ujarnya.
Meski dolar AS sempat turun dari level Rp17.900-an, pergerakan rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar mengingat tekanan global dan domestik belum sepenuhnya mereda. (nsp)