news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS..
Sumber :
  • Antara

Kelas Menengah ke Bawah Jadi Korban Pertama Imbas Tekanan Rupiah: Ancaman PHK Mengintai

Pengamat menilai bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor membuat gejolak nilai tukar ambruk terhadap dolar AS akan cepat merembet ke berbagai sektor ekonomi.
Selasa, 2 Juni 2026 - 14:40 WIB
Reporter:
Editor :

Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, mulai tercermin dari menurunnya kemampuan belanja masyarakat di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan.

“Nah kondisi tersebut ini berpengaruh sekali terhadap daya beli masyarakat. Ya kita melihat bahwa harga-harga saat ini relatif lebih mahal ya masyarakat pun juga kita melihat sedikit menurun daya beli masyarakatnya,” tuturnya.

Meski pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi, Ibrahim mengingatkan tekanan inflasi tetap berpotensi meningkat karena harga bahan pangan di tingkat pasar tradisional sudah mengalami kenaikan.

“Apalagi ketakutan-ketakutan tentang kondisi saat ini walaupun BBM bersubsidi tidak dinaikkan tetapi dampak dari kenaikan harga terutama adalah harga-harga bahan pokok ya di pasar-pasar tradisional yang sudah meningkat cukup tinggi dan ini kemungkinan besar akan berdampak terhadap inflasi,” katanya.

Ia bahkan memperkirakan Bank Indonesia dapat merespons tekanan inflasi dengan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

“Nah pada saat inflasi tinggi, kemungkinan besar Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga. Target dari Bank Indonesia sendiri sampai akhir tahun adalah 1 persen ya 100 basis poin,” tegasnya.

“Artinya apa bisa saja dalam pertemuan di bulan Juni ini Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 basis poin,” lanjut dia.

Senada dengan itu, pengamat mata uang Ariston Tjendra menilai, dampak pelemahan rupiah sebenarnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat, namun kelompok berdaya beli rendah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan.

“Semua kelas terdampak ya. Tapi tentu yang paling merasakan yang daya belinya rendah dengan kenaikan harga barang-barang konsumsi akibat rupiah melemah dan kenaikan harga minyak mentah,” ujar Ariston.

Ia menekankan bahwa banyak produk konsumsi di Indonesia masih memiliki kandungan impor yang tinggi, bahkan sebagian sepenuhnya didatangkan dari luar negeri.

“Barang-barang konsumsi kita tidak murni lokal, banyak kandungan-kandungan impornya dan sebagian 100 persen impor seperti kedelai, gandum, dan lain-lain,” katanya. (agr/rpi)

 
 

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:17
01:06
03:52
04:26
01:37
01:24

Viral