news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi rupiah..
Sumber :
  • Antara

Rupiah Hari Ini 3 Juni 2026 Anjlok, Nyaris ke Rp17.900 Usai BPS Rilis Data Inflasi dan Surplus Neraca Perdagangan RI

Rupiah hari ini 3 Juni 2026 anjlok, nyaris berada di angka Rp17.900. 
Rabu, 3 Juni 2026 - 09:47 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah hari ini 3 Juni 2026 anjlok, nyaris berada di angka Rp17.900. 

Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.863 pada 2 Juni 2026. 

Pada perdagangan 29 Mei 2026, posisi rupiah menguat 20 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.883. 

Pada 3 Juni 2026 hingga pukul 09.07 WIB, rupiah terpantau ditransaksikan di angka Rp17.896 per dolar AS. 

Posisi rupiah hari ini melemah 57 poin atau 0,32 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.839 per dolar AS.

Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan Badan pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi 3,08 persen year-on-year (yoy) pada Mei 2026. 

Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Secara year-to-date (ytd), inflasi sebesar 1,35 persen. Secara month-to-month (mtm), inflasi sebesar 0,28 persen.

Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. 

Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026.

Meskipun ada sinyal positif, menurut dia, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.

Berdasarkan laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Perbaikan ditopang peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut.

Kenaikan pesanan baru pada Mei 2026 tersebut itu telah menjadi yang tercepat sejak Februari lalu.

Di sisi lain, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda. 

Dia menyebut kinerja ekspor non-migas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional.

Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 tercatat mencapai US$5,64 miliar.

Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840—Rp17.900," ujarnya. (Mohammad Yudha Prasetya/VIVA/nsi)

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:20
04:43
01:17
01:25
01:33
01:17

Viral