Curhat Pekerja Saat Rupiah Tembus Rp17.855 per Dolar AS: Makan Siang Makin Mahal, Gaji Tetap Segini
- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
Jakarta, tvOnenews.com - Deretan warung makan di kawasan perkantoran Jakarta tampak ramai saat jam makan siang, di tengah obrolan santai para pekerja yang melepas penat, satu topik ikut mengemuka nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh Rp17.855 per dolar Amerika Serikat (AS), Selasa (2/6/2026).
Meski sebagian mengaku tidak memahami secara rinci pergerakan pasar valuta asing, dampaknya dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Harga makanan, kebutuhan rumah tangga, hingga biaya transportasi disebut terus merangkak naik dalam beberapa bulan terakhir.
Rudi (34), seorang karyawan administrasi swasta di Jakarta Pusat, mengaku pengeluaran makan siangnya kini lebih besar dibandingkan tahun lalu.
“Sebelumnya Rp20 ribu masih dapat nasi, ayam, sama es teh. Sekarang kalau mau menu yang sama bisa Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Memang tidak langsung terasa karena rupiah, tapi ujung-ujungnya harga barang naik semua,” katanya saat ditemui di sebuah rumah makan sederhana.
Meski kondisi ekonomi dinilai semakin menantang, para pekerja berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan nilai tukar rupiah agar daya beli masyarakat tidak semakin tergerus.
“Bagi kami yang penting harga-harga jangan terus naik. Karena yang paling terasa itu bukan angka dolar di berita, tapi harga makan siang dan belanja harian yang makin mahal,” kata Rudi.
Kondisi serupa dirasakan Nita (29), pekerja ritel yang memilih membawa bekal dari rumah untuk menghemat pengeluaran.
“Sekarang saya lebih sering masak sendiri. Kalau beli makan siang setiap hari lumayan berat. Belanja bulanan juga naik, terutama minyak goreng, telur, dan kebutuhan dapur lainnya. Jadi makan di kantin begini sesekali aja,” ujarnya.
Bagi sebagian pekerja, kekhawatiran tidak hanya soal kenaikan harga kebutuhan pokok. Pelemahan rupiah juga memunculkan kecemasan terkait kondisi perusahaan tempat mereka bekerja.
Andri (41), karyawan di perusahaan manufaktur, mengaku mulai waswas karena bahan baku produksi masih banyak yang bergantung pada impor.
“Kalau dolar naik terus, biaya produksi perusahaan pasti ikut naik. Yang ditakutkan bukan cuma harga barang, tapi kalau perusahaan mulai mengurangi biaya operasional atau bahkan ada pengurangan karyawan,” tuturnya.
Load more