- Antara
IHSG Ambrol Parah ke Level Terendah dalam 5 Tahun, Asing Kabur Jual Saham BBCA hingga TPIA
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan sangat berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Setelah sehari sebelumnya ditutup menguat 1,11 persen, IHSG berbalik melemah tajam pada sesi I perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan data penutupan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terjun bebas 305,94 poin atau 4,94 persen ke level 5.889,48.
Aktivitas perdagangan menunjukkan investor asing masih melakukan aksi jual bersih atau net foreign sell senilai Rp525,37 miliar di seluruh pasar hingga tengah hari. Nilai penjualan investor asing mencapai Rp5,74 triliun, sementara pembelian hanya Rp5,21 triliun.
Aksi jual asing banyak terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan nilai net foreign sell terbesar, yakni Rp265,32 miliar.
Tekanan serupa juga terjadi pada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mencatat net foreign sell Rp257,53 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp198,73 miliar.
Beberapa saham lain yang turut dilepas investor asing dalam jumlah besar antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp104,14 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp90,94 miliar, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) sebesar Rp57,13 miliar.
Di tengah derasnya tekanan jual, sejumlah saham masih menjadi incaran investor asing. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin daftar net foreign buy dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp165,59 miliar.
Selanjutnya terdapat PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan net foreign buy Rp87,04 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp86,96 miliar, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp43,21 miliar.
Pelemahan pasar terlihat sejak awal perdagangan. Setelah dibuka di zona merah, IHSG terus bergerak turun akibat tekanan jual yang meningkat.
Indeks bahkan sempat menyentuh posisi terendah di level 5.876,32 sebelum akhirnya berada di kisaran 5.889 saat sesi pertama berakhir.
CNBC menyebut ambrolnya IHSG ini menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, indeks pernah berada di bawah posisi tersebut pada Mei 2021, ketika pasar masih berada dalam fase pemulihan setelah guncangan pandemi Covid-19 pada 2020.
Penyebab IHSG Terjun Bebas
Mengutip Antara, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan IHSG dipicu oleh langkah investor yang mengurangi porsi investasi pada aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Menurutnya, pergerakan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri.
"Tekanan terjadi cukup merata, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan terhadap indeks, sehingga penurunannya berdampak signifikan terhadap IHSG," ujar Elandry.
Dari faktor domestik, Elandry menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi makro sekaligus meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar domestik.
"Selain itu, tekanan teknikal akibat penembusan level support juga mempercepat aksi jual di pasar," ujar Elandry.
Sementara dari sisi global, pelaku pasar merespons meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi itu memicu sentimen risk-off yang mendorong perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Menurut Elandry, investor asing saat ini masih memilih bersikap wait and see dengan fokus pada stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan suku bunga global, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ia menambahkan, selama volatilitas rupiah masih tinggi, arus dana asing berpotensi tetap bergerak hati-hati.
"Namun sejauh ini, saya melihat lebih banyak aksi pengurangan risiko jangka pendek dibanding perubahan pandangan fundamental terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan," ujar Elandry. (ant/rpi)