- ANTARA
Sinyal Bahaya! DPR Ingatkan Efek Domino dari Jatuhnya IHSG dan Rupiah
Jakarta, tvOnenews.com - Pasar modal dan keuangan domestik masih dihantam gelombang tekanan yang sangat berat pada awal pekan ini. Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terus memburuk secara signifikan.
IHSG anjlok parah hingga 4 persen (merosot 246 poin) ke level 5.349 pada Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026).
Beriringan dengan itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga kian jatuh hingga menembus angka Rp18.188 per dolar AS.
Situasi yang tidak baik-baik saja ini direspons Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Marwan Jafar, yang mendesak pemerintah dan otoritas moneter untuk segera mengambil langkah darurat.
Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) ini meminta upaya cepat, cerdas, dan terukur demi memulihkan kepercayaan pasar yang mulai goyah.
"Pelemahan rupiah yang sangat dalam dan amblesnya IHSG ini adalah sinyal bahaya. Pemerintah harus segera melakukan intervensi pasar yang tepat. Kondisi darurat seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa arah kebijakan yang jelas," tegas Marwan Jafar di Jakarta, Senin (8/6/2026).
Efek Domino Jatuhnya IHSG dan Rupiah
Marwan Menilai, kejatuhan IHSG dipicu oleh kepanikan investor yang membuat aksi jual secara besar-besaran.
Menurutnya, jika sentimen negatif ini dibiarkan tanpa kepastian komunikasi publik dari pemerintah, risiko penarikan dana asing secara massal (capital outflow) akan semakin memperpuruk nilai tukar.
faktor psikologis pasar dan kepastian regulasi jauh lebih menentukan stabilitas ekonomi saat ini dibandingkan sekadar data fundamental di atas kertas.
“Sentimen investor memegang kendali besar. Ketika pelaku pasar melihat pemerintah punya strategi mitigasi yang jelas dan respons cepat, tekanan terhadap rupiah bisa diredam," ucap legislator PKB asal Dapil Jawa Tengah III tersebut.
Sebaliknya, jika ketidakpastian dipelihara, pasar keuangan kita bisa lumpuh,” ujarnya.
Lebih lanjut, Marwan mengingatkan bahwa krisis di sektor keuangan ini bukan sekadar angka di papan saham, melainkan bom waktu bagi masyarakat kecil.
Melemahnya rupiah ke level Rp18.000-an akan langsung mengerek biaya impor bahan baku industri dan memicu inflasi harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar.