- (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Rupiah Melemah ke Rp17.817 per Dolar AS, Ini Pemicunya
Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah ke Rp17.817 per dolar Amerika Serikat (AS).
Melemahnya rupiah dipicu proteksionisme dagang AS dan rentannya perdamaian Timur Tengah.
Meski begitu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.826 per dolar AS pada Jumat, 19 Juni 2026.
Perdagangan di pasar spot pada Senin, 22 Juni 2026 hingga pukul 09.05 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp17.817 per dolar AS.
Posisi rupiah melemah 13 poin atau 0,07 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.804 per dolar AS.
Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memaparkan penguatan dolar AS dipicu perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump hingga arah kebijakan moneter The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Walsh.
Meskipun Iran-AS telah menandatangani MoU tahap pertama yang mencakup pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan sanksi ekonomi, ketegangan di Timur Tengah dinilai belum sepenuhnya mereda.
Pasalnya, Israel dan Lebanon masih terlibat aksi saling serang hingga memunculkan kekhawatiran Iran akan kembali menutup Selat Hormuz jika kesepakatan perdamaian dilanggar.
Di lain sisi, perang Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pasalnya, Rusia terus meningkatkan serangan terhadap infrastruktur di ibu kota Ukraina, Kyiv, sehingga menambah ketidakpastian di pasar global.
"Hal ini juga membuat satu kecemasan di Eropa Timur yang bisa mengangkat harga minyak yang bisa menguatkan indeks dolar AS," terangnya, Senin (22/6/2026).
Selain itu, pemerintahan Trump akan kembali fokus pada agenda proteksionisme dan perang dagang melalui penerapan tarif resiprokal terhadap negara-negara mitra dagang.
Kebijakan itu berpotensi meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor memburu aset berdenominasi dolar AS.
"Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.800-Rp17.850," ujarnya.
Pasar turut mencermati arah kebijakan The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Walsh.
Untuk menurunkan inflasi ke target 2 persen, The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dan membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan.