- shutterstock
Tekanan Belum Usai, Rupiah Dibayangi Lonjakan Inflasi dan Susutnya Cadangan Devisa
Jakarta, tvOnenews.com - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan belum akan mereda, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Garuda kini juga dibayangi risiko dari dalam negeri berupa lonjakan inflasi dan potensi penyusutan cadangan devisa.
Pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pagi pukul 09.11 WIB, rupiah berada di level Rp17.990 per dolar AS atau melemah 0,26 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.943 per dolar AS. Pelemahan itu terjadi seiring kenaikan indeks dolar AS ke level 101,50 dari sebelumnya 101,43.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar kini mulai mencermati sejumlah indikator domestik yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah pada awal bulan depan.
- dok. Bakom Humas
“Nah, dari segi internal sendiri, saya melihat bahwa ada beberapa data yang mungkin akan dicermati di awal bulan,” kata Ibrahim saat dihubungi, dalam keterangan suara, Jumat (26/6/2026).
Ia memperkirakan inflasi Juni akan meningkat dibanding bulan sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berimbas pada biaya distribusi dan harga kebutuhan pokok.
“Saya melihat bahwa inflasi kemungkinan besar akan naik ya karena dengan kenaikan harga bahan bakar non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, kenaikan biaya transportasi akan mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
“Ini membuat harga-harga bahan pokok, di pasaran ini melonjak tinggi karena transportasi juga naik. Dan ini akan berdampak terhadap inflasi,” katanya.
Ia menambahkan, tekanan harga diperkirakan lebih besar dibanding periode sebelumnya.
“Inflasi di bulan Juni kemungkinan besar akan lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi di bulan sebelumnya. Itu yang pertama,” ucapnya.
Selain inflasi, Ibrahim juga menyoroti potensi berkurangnya cadangan devisa Indonesia akibat langkah agresif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kemudian yang kedua tentang cadangan devisa. Kita melihat bahwa cadangan devisa Indonesia kemungkinan besar akan menyusut ya karena kita melihat bahwa Bank Sentral begitu aktif dalam melakukan intervensi baik di pasar internasional, pasar domestik, kemudian obligasi dan surat utang negara, bahkan menaikkan suku bunga 100 basis poin,” jelasnya.