news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi uang rupiah dan dolar.
Sumber :
  • Ilustrasi AI/ChatGPT

Rupiah Tertekan, Pasar Dibayangi Konflik AS-Iran hingga Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed

Pengamat menilai pelemahan mata uang rupiah tidak hanya dipicu sentimen global, tetapi juga meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Selasa, 30 Juni 2026 - 17:30 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain dibebani persoalan fundamental ekonomi domestik, pelaku pasar kini juga mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, hingga peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang di pasar keuangan global.

Menurut Ibrahim, perhatian investor tertuju pada kemungkinan pembicaraan antara AS dan Iran di Doha setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang rudal pada akhir pekan yang menguji keberlangsungan gencatan senjata.

“Pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata,” kata Ibrahim dalam keterangannya saat dihubungi, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan Iran bersama Oman juga akan memulai pembahasan mengenai penataan ulang jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.

“Para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan tentang pendefinisian ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya.

Mengutip pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, Ibrahim mengatakan Iran akan berupaya menghalangi kapal-kapal yang melintas di luar jalur pelayaran yang telah ditetapkan.

Namun di sisi lain, peluang dimulainya negosiasi damai masih belum jelas. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan belum ada agenda pertemuan dengan pihak Amerika Serikat dalam waktu dekat.

“Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang,” katanya.

Ketidakpastian itu juga diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump.

“Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin juga tidak. Kita akan mengetahuinya,” kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

Menurut Ibrahim, belum adanya kepastian mengenai perundingan damai menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni.

Kondisi tersebut terus memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz, sementara Israel hingga kini juga belum bergabung dalam proses pembicaraan damai.

Selain isu geopolitik, pasar global juga dibayangi ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada tahun ini. Sikap hawkish yang ditunjukkan bank sentral AS dalam pertemuan Juni membuat investor semakin berhati-hati.

“Selain itu, keyakinan yang semakin besar bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini. Hal ini terjadi setelah bank sentral menunjukkan sikap hawkish selama pertemuan Juni, dengan beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga,” ujarnya.

Perhatian investor kini beralih pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis Kamis diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 114.000 lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,3 persen.

Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 55 poin ke level Rp17.906 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.851.

Pelemahan tersebut tidak hanya dipicu sentimen global, tetapi juga meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap kondisi ekonomi domestik, termasuk menyusutnya surplus perdagangan, pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD), serta tekanan inflasi di sejumlah daerah. (agr/rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:09
00:47
00:52
06:23
05:11
05:29

Viral