- Pixabay.com
Transaksi Keuangan Digital Meningkat, M2P Fintech Dorong Bank dan Fintech Perkuat Sistem Anti-Fraud Berbasis AI
Senada, Banking Fraud Risk Technology Practitioner, Bayu Hasdianto, menilai sistem pengelolaan fraud harus mampu membaca risiko dari berbagai sumber secara bersamaan agar potensi kerugian dapat dicegah sejak dini.
Menurutnya, Bank menghadapi pola fraud yang terus berkembang, mulai dari social engineering dan account takeover hingga penyalahgunaan kanal digital.
"Karena itu, fraud management system perlu mampu membaca risiko dari berbagai sumber, termasuk transaksi, perilaku nasabah, perangkat, dan kanal yang digunakan. Semakin cepat sinyal risiko dapat dideteksi, semakin besar peluang bagi bank untuk mencegah kerugian dan menjaga pengalaman nasabah tetap aman," jelas Bayu.
Penguatan sistem anti-fraud juga sejalan dengan penerapan Peraturan OJK (POJK) Nomor 12 Tahun 2024 tentang Penerapan Strategi Anti-Fraud bagi Lembaga Jasa Keuangan.
Regulasi tersebut menegaskan bahwa strategi anti-fraud harus mencakup pencegahan, deteksi, investigasi, pelaporan, hingga evaluasi secara berkelanjutan.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, M2P memperkenalkan *Fraud Management System, sebuah platform terintegrasi yang memanfaatkan AI untuk membantu bank dan fintech mendeteksi anomali transaksi, menganalisis perilaku pengguna, melakukan penilaian risiko (*risk scoring), serta mengotomatisasi proses investigasi dan penanganan kasus.
Sementara itu, Deputy Vice President Business Development, Product, and Partnerships M2P Fintech, Madhusudhan Ramakrishnan, mengatakan lembaga keuangan membutuhkan sistem yang tidak hanya menghasilkan peringatan, tetapi juga mampu memberikan konteks agar pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat.
Menurutnya, Bank dan perusahaan fintech membutuhkan sistem yang tidak hanya menghasilkan peringatan, tetapi juga membantu tim memahami konteks di balik setiap risiko.
"AI dapat memperkuat proses ini, mulai dari deteksi anomali dan penilaian risiko hingga prioritisasi respons dan pembelajaran dari kasus sebelumnya. Dengan sistem yang terintegrasi, fraud management dapat menjadi lebih proaktif, akurat, dan relevan dengan kebutuhan bisnis," ujar Madhusudhan.
Menurut M2P, pendekatan berbasis AI juga memungkinkan lembaga keuangan menjaga keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan nasabah.
Transaksi yang dinilai aman dapat diproses tanpa hambatan, sementara pemeriksaan tambahan hanya dilakukan terhadap aktivitas yang benar-benar berisiko.