- tvOnenews.com/Rilo Pambudi
IHSG Bangkit dari Zona Merah, Analis Ungkap Pasar Bidik Level 6.000 pada Perdagangan Berikutnya
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengakhiri perdagangan di zona hijau pada Senin (6/7/2026) sore.
IHSG ditutup menguat 40,29 poin atau 0,69 persen ke level 5.916,07. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga menguat 2,70 poin atau 0,46 persen menjadi 584,48.
Pada sesi pertama, IHSG sempat terkoreksi 0,31 persen. Namun, indeks berbalik bangkit dari zona merah pada sesi kedua hingga berhasil ditutup di level positif.
Nilai transaksi di pasar saham tercatat sebesar Rp9,50 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata nilai transaksi harian sepanjang pekan sebelumnya yang mencapai Rp11,27 triliun.
Dari sisi nilai transaksi, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling aktif dengan total transaksi mencapai Rp907,22 miliar. Sementara berdasarkan volume perdagangan, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat jumlah saham yang paling banyak diperdagangkan.
Kenaikan IHSG juga didorong oleh penguatan saham-saham sektor konsumer siklikal yang mengangkat indeks IDXCYCLIC sebesar 1,26 persen. Sebaliknya, sektor infrastruktur dan konsumer nonsiklikal menjadi penekan utama di antara indeks sektoral lainnya.
Analis Phintraco Sekuritas menilai menilai IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan.
"Secara teknikal IHSG diperkirakan berpotensi melanjutkan kenaikan dan menguji level 6.000,” jelas analis Phintraco, dalam catatan yang disampaikan kepada investor.
Faktor Eksternal akan Menentukan Arah Sentimen Pasar
Memasuki semester II 2026, sejumlah analis menilai arah pergerakan pasar akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal.
Investor diperkirakan akan lebih selektif dengan mengutamakan emiten yang memiliki fundamental kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kemampuan emiten mempertahankan kinerja di tengah perlambatan ekonomi dan suku bunga yang masih tinggi akan menjadi pertimbangan utama bagi investor.
"Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar," ujar Rully.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi makroekonomi, investor perlu menyeimbangkan analisis terhadap faktor eksternal dengan kekuatan fundamental perusahaan agar lebih siap menghadapi fluktuasi pasar.
Pandangan serupa disampaikan Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri. Menurutnya, fokus investor kini mulai beralih pada kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal setelah neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS.
Kondisi tersebut mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sekaligus menjadi defisit bulanan terbesar sejak April 2019.
Novani menjelaskan, defisit neraca perdagangan itu mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal di tengah perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, serta tingginya impor minyak dan gas.
Situasi tersebut juga terjadi ketika transaksi berjalan masih mengalami defisit dan cadangan devisa terus mengalami penurunan.
"Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar," ujar Novani. (rpi)