- PT BRI
Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Membuka Jalan Akses Finansial hingga Perbaiki Nasib Nelayan di Pulau Seram
Lantas, mengapa Asti bersedia menempuh bahaya sebesar itu? Jawabannya ada pada beban moral dan cinta pada tanah kelahirannya.
Saat masih kuliah, Asti menyaksikan keluarganya di pulau kesulitan mendapatkan modal usaha.
Mereka harus pergi jauh ke Ambon atau Masohi, namun sering kali pulang dengan tangan hampa karena akses geografis yang dianggap mustahil oleh pihak bank.
Lebih menyedihkan lagi, Asti menemukan banyak warga pulau yang menjadi korban penipuan oknum.
Warga diminta menyetorkan uang muka jutaan rupiah dengan janji pinjaman, namun pelaku kemudian menghilang tanpa jejak.
"Itu yang jadi motivasi saya. Kasihan orang-orang ini, mereka mampu bekerja tapi mereka ditipu," ujarnya.
Asti memulai langkahnya dengan edukasi. Strateginya unik: ia tidak langsung menawarkan kredit, melainkan membangun jaringan BRILink Agen terlebih dahulu.
Ia ingin masyarakat memiliki tempat untuk bertransaksi tanpa harus menyeberang ke kota. Dari sana, ia perlahan memberikan literasi keuangan.
Namun Asti menghadapi tantangan budaya, di mana warga terbiasa menyimpan uang secara tradisional. Asti pernah menemukan nasabah yang menyimpan uang di dalam bantal atau di bawah kasur hingga uang tersebut hancur dimakan tikus.
"Saya bilang ke mereka, jangan disimpan begitu, nanti dimakan tikus tidak laku lagi," tuturnya sambil terkekeh.
Akhirnya, ia turut mengambil andil dalam mengajari warga menggunakan aplikasi perbankan digital seperti BRImo dan menjelaskan perbedaan mendasar antara perbankan resmi dan rentenir agar warga tidak terjerat utang yang mencekik.
Kini, kerja keras Asti mulai membuahkan hasil yang nyata. Dari nol, ia kini mengelola lebih dari 700 debitur di wilayah. Namun, bagi Asti, angka-angka tersebut hanyalah statistik. Pasalnya, keberhasilan sesungguhnya ada pada perubahan hidup para nasabahnya.
Berkat akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ia bawa, wajah ekonomi Pulau Kelang berubah. Para nelayan yang dulunya hanya mengandalkan mesin kecil kini mampu membeli mesin dengan tenaga yang lebih besar.
Alhasil, dengan mesin baru, mereka bisa mengantar hasil tangkapan ikan atau hasil bumi seperti jahe, kunyit, dan minyak kayu putih langsung ke Ambon untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif, tanpa harus bergantung pada tengkulak.