- Istimewa
Ekonomi Karbon Ubah Arah Bisnis Global, Indonesia Dinilai Punya Peluang yang Menjanjikan
Diskusi juga menghadirkan pengalaman praktis VCarboN dalam mengembangkan proyek karbon berbasis mangrove dan peatland di Sumatera Selatan.
Heppy yang juga merupakan Presiden Indonesia Islamics Business Forum (IIBF), mengatakan pengembangan proyek karbon membutuhkan keterlibatan berbagai bidang keilmuan.
Kompetensi yang diperlukan antara lain kehutanan, hidrologi, ekologi, GIS, hukum, ekonomi, keuangan, remote sensing, artificial intelligence, biodiversitas, pemberdayaan masyarakat, MRV, hingga investasi.
“Di lapangan kami menemukan bahwa ekonomi karbon tidak mungkin dibangun oleh satu disiplin ilmu. Satu proyek karbon mempertemukan begitu banyak keahlian. Karena itu, kami melihat perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun masa depan ekonomi karbon Indonesia,” ujar President IIBF ini.
Menurut Heppy, kekuatan Indonesia tidak hanya berasal dari luasnya hutan, gambut, dan mangrove. Potensi tersebut harus diikuti kemampuan membangun ilmu pengetahuan, teknologi, tata kelola, serta sumber daya manusia yang mampu menghasilkan nilai tambah dari kekayaan alam.
Setelah forum berlangsung, Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo, M.Si., Ph.D.Med.Sc menyatakan keinginannya untuk menindaklanjuti pertemuan tersebut lewat penjajakan kerja sama dengan VCarboN. Sejumlah bidang terkait ekonomi karbon dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan bersama.
"Ruang kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain riset terapan, carbon data dan MRV, remote sensing dan AI, natural capital, biodiversitas, pengembangan talenta, serta keterlibatan akademisi dan mahasiswa dalam penelitian dan pembelajaran berbasis persoalan nyata di lapangan," ujar Widodo.
Widodo lantas juga membeberkan bahwa kerja sama itu nantinya diharapkan mampu menggabungkan kekuatan riset dan keilmuan UB dengan pengalaman VCarboN dalam menjalankan proyek karbon berbasis alam.
Kembali ke Heppy Trenggono yang juga Pimpinan Gerakan Bela dan Beli Indonesia, ia menilai Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk mengambil peran dalam perkembangan ekonomi baru dunia.
Menurutnya potensi tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dipadukan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan integritas dalam pengelolaannya.
"Pertemuan ini, membawa satu pesan penting bahwa masa depan ekonomi hijau Indonesia membutuhkan pertemuan antara alam, ilmu pengetahuan, teknologi, dunia usaha dan integritas, agar kekayaan natural capital Indonesia dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus tetap terjaga bagi generasi mendatang," ujar Heppy. (rpi)