- ANTARA
Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Airlangga: Investor Pasar Modal Tetap Penuh Senyum
Jakarta, tvOnenews.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen pada kuartal II 2026 menjadi salah satu modal penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Airlangga saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia dan Peluncuran Produk ETF Emas di Jakarta Selatan, Senin (10/8/2026).
Menurut Airlangga, pasar modal memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam membaca kondisi perekonomian suatu negara.
Karena itu, kepercayaan investor perlu terus dijaga, terutama ketika perekonomian global menghadapi berbagai tekanan.
“Peringatan ini momentum untuk menjaga kepercayaan para investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan internasional dan nasional. Karena pasar modal selalu merupakan proxy ekonomi yang dilihat oleh para investor, terutama pada saat-saat yang sangat strategis,” kata Airlangga.
Ia kemudian menyoroti kinerja ekonomi Indonesia yang tetap tumbuh di atas 5 persen. Pada kuartal II 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Sementara secara kumulatif semester I 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen.
“Tadi sudah disampaikan bahwa alhamdulillah di semester atau di Q2 ini kita masih tumbuh di atas 5 persen, yaitu 5,29 persen. Dan secara semester, semester satu kita tumbuh di 5,45 persen,” ujar Airlangga.
Airlangga menilai capaian tersebut semakin penting karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang disebutnya berada di kisaran 3 persen.
Tak hanya pertumbuhan ekonomi, investasi juga menunjukkan kinerja positif. Nilai investasi disebut telah menembus lebih dari Rp1.000 triliun dengan pertumbuhan 7,2 persen secara tahunan.
“Dan ini melebihi ekspektasi daripada global, di mana global rata-rata 3 persen. Kemudian kita juga melihat investasi juga mencapai lebih dari 1.000 triliun, atau tumbuh 7,2 persen secara year on year. Makanya saya lihat para investor di pasar modal tetap penuh senyum dan happy,” katanya.
Meski demikian, pemerintah tidak ingin terlena dengan capaian tersebut. Airlangga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi nasional.
Ia memproyeksikan kebutuhan pembiayaan ekonomi yang pada 2026 berada di kisaran Rp7.400 triliun akan meningkat menjadi Rp9.200 triliun pada 2029.
“Kita harus terus jaga karena pembiayaan ekonomi yang di tahun 2026 itu sekitar 7.400 triliun, itu akan meningkat ke 9.200 triliun di tahun 2029,” ucapnya.
Airlangga juga menyoroti kepercayaan lembaga pemeringkat internasional terhadap fundamental Indonesia. Ia menyebut S&P masih mempertahankan peringkat BBB dengan outlook Stable, Fitch di level BBB, sedangkan Moody’s berada pada level Baa2.
Selain itu, Indonesia disebut memperoleh peringkat AAA untuk Panda Bond. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas sumber pembiayaan dan tidak bergantung pada satu instrumen atau pasar tertentu.
“Dan kepercayaan terhadap fundamental Indonesia tetap kuat di mana S&P masih Triple B (BBB) Outlook Stable, Fitch Triple B (BBB), Moody’s Baa2. Serta tentunya kita lihat dari Panda Bond, mereka memberikan kita Triple A (AAA),” tutur Airlangga.
Menurut dia, status tersebut perlu dimanfaatkan untuk menarik pembiayaan lebih besar melalui Panda Bond. Terlebih, hubungan perdagangan Indonesia dengan China memiliki nilai yang besar, sementara Indonesia juga memiliki kerja sama bilateral dalam bentuk swap arrangement.
“Nah, tentu kalau Triple A (AAA), kita harus bisa menarik lebih besar Panda Bond. Pertama Triple A (AAA), kedua trade kita dengan China itu US$150 miliar. Kemudian kita punya bilateral swap arrangement itu US$50 miliar,” katanya.
Airlangga menilai momentum tersebut dapat digunakan pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber pinjaman. Selain Panda Bond, pemerintah juga melihat peluang melalui penerbitan Samurai Bond.
“Jadi kalau ini adalah momentum kita juga untuk diversifikasi daripada pinjaman. Nah, ini mungkin beberapa yang bisa didorong, selain Panda Bond tentu Samurai Bond. Jadi kalau kita bisa dorong diversifikasi tentu akan lebih baik,” pungkasnya. (agr/nsi)