- Antara
Rupiah Ditutup Menguat Rp17.748, Tapi Kuota BBM Subsidi Dipangkas 58,5 Persen
“Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$75 per barel pada 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran US$83 per barel, Rupiah di angka Rp17.500,” katanya.
Menurut Ibrahim, selisih asumsi harga minyak dengan kondisi pasar perlu menjadi perhatian pemerintah. Sebab, perubahan harga minyak dunia dapat berpengaruh terhadap tekanan subsidi sekaligus biaya energi di dalam negeri.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat,” tegasnya.
Pengguna Pertalite yang banyak mengandalkan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari menjadi kelompok yang paling berpotensi merasakan dampak kebijakan tersebut. Pembatasan kuota yang besar dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga apabila masyarakat harus membeli BBM nonsubsidi.
“Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari. Pembatasan kuota yang cukup besar berpotensi meningkatkan beban pengeluaran apabila masyarakat harus beralih ke BBM nonsubsidi,” ujarnya.
Karena itu, Ibrahim menilai pemerintah perlu menghitung secara cermat dampak pengendalian subsidi terhadap daya beli. Kebijakan efisiensi anggaran jangan sampai justru menimbulkan tekanan baru terhadap konsumsi masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah.
“Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah yang paling sensitif terhadap kenaikan biaya transportasi,” kata Ibrahim.
Di tengah sentimen domestik tersebut, pelaku pasar juga masih bersikap hati-hati menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal II 2026. Data tersebut dinilai penting untuk melihat seberapa kuat fundamental eksternal Indonesia setelah defisit transaksi berjalan pada kuartal sebelumnya melebar.
“Selain itu, sikap hati-hati masih para investor terus membayangi pasar menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal kedua yang dijadwalkan pekan ini, mengingat defisit pada kuartal pertama sempat melebar ke tingkat terbesar sejak 2019 akibat kinerja perdagangan yang melemah akibat gejolak geopolitik di timur tengah yang menyebabkan harga Minyak mentah dunia terus menguat,” pungkasnya. (agr/nba)