news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi ekspor-impor RI yang tergambar dari suasana di terminal petikemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta..
Sumber :
  • Dok. Pelindo

Kurangi Ketergantungan Utang, Indonesia Dinilai Perlu Ubah Struktur Neraca Pembayaran Jadi Investment-Driven

Namun, menurutnya transformasi tersebut membutuhkan perubahan terhadap struktur pembiayaan dan neraca pembayaran Indonesia.
Selasa, 1 September 2026 - 08:54 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai keinginan mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman dan lebih mengutamakan investasi merupakan arah yang tepat. 

Namun, menurutnya transformasi tersebut membutuhkan perubahan terhadap struktur pembiayaan dan neraca pembayaran Indonesia.

Menurut Fakhrul, investasi langsung memiliki karakter berbeda dengan utang. Utang menciptakan kewajiban pembayaran kembali dan bunga, sementara investasi produktif—terutama yang berbasis ekspor—dapat menciptakan kapasitas produksi, lapangan kerja, teknologi, ekspor, dan sumber penerimaan valuta asing baru.

“Saya sependapat dengan arah yang disampaikan Presiden. Kalau Indonesia mempunyai pilihan antara terus menambah ketergantungan terhadap utang atau memperbesar investasi produktif, kita harus semakin menggeser struktur pembiayaan menuju investasi. Apalagi kalau pembiayaan neraca pembayaran masih didominasi SBN dan SRBI, beban biaya bunga akan terus meningkat," kata Fakhrul, Selasa (1/9/2026).

Fakhrul menekankan bahwa persoalan utang tidak cukup dilihat dari APBN. Dari perspektif balance of payments, Indonesia masih bergantung pada foreign portfolio flows ke instrumen berbasis utang, terutama SBN dan SRBI, untuk membantu memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.

Karena itu, strategi mengurangi ketergantungan terhadap utang harus disertai penciptaan sumber capital inflow alternatif.

“Kita tidak bisa hanya mengurangi debt inflows. Kita harus mempunyai penggantinya. Kalau ketergantungan kepada debt-based capital flows ingin turun, investment-based capital flows harus naik," terangnya.

Terkait hal tersebut, perbaikan persepsi terhadap pasar modal Indonesia, termasuk persoalan yang menjadi perhatian MSCI, perlu segera dilakukan karena dapat memengaruhi kemampuan Indonesia menarik arus investasi global.

Net FDI Indonesia Masih Terlalu Rendah

Menurut Fakhrul, net direct investment Indonesia dalam beberapa tahun terakhir hanya berada di kisaran sekitar 0,8–1,7% terhadap PDB, belum cukup besar untuk secara struktural mengubah komposisi pembiayaan eksternal.

“Gross investment Indonesia memang besar. Tetapi dalam balance of payments kita harus melihat net direct investment, karena perusahaan Indonesia juga semakin aktif berinvestasi ke luar negeri. Net FDI ini harus kita naikkan secara struktural," ungkapnya.

Indonesia membutuhkan investasi yang menghasilkan ekspor, substitusi impor, dan foreign-currency earning capacity.

Berita Terkait

1
2 3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral