- tvOnenews
Bitcoin Tertahan di US$78.000, Pasar Cermati Sinyal ETF dan Kebijakan The Fed
Selain pergerakan ETF, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan moneter AS. Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus lalu dinilai pasar sebagai sinyal hawkish.
Warsh menyampaikan bahwa inflasi AS masih berada di atas target 2%. Perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir juga dinilai belum memberikan perbaikan yang cukup signifikan.
Memasuki September, pasar akan mencermati data ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 4 September. Data Consumer Price Index (CPI) yang akan diumumkan pada 11 September juga menjadi perhatian investor.
Kedua indikator ekonomi tersebut akan menjadi bagian dari pertimbangan pasar menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 15-16 September 2026.
Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin masih berpotensi tinggi sepanjang September. Kondisi tersebut terjadi karena pelaku pasar akan semakin menjadikan data ekonomi AS sebagai acuan dalam menentukan posisi investasi.
“Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka,” katanya lagi.
Sebaliknya, inflasi yang masih tinggi berpotensi mempertahankan tekanan terhadap Bitcoin. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
Dalam jangka pendek, area 80.000-81.000 dolar AS menjadi level penting yang perlu diperhatikan.
Apabila Bitcoin mampu menembus dan mempertahankan posisi di atas zona tersebut, peluang terbentuknya kembali momentum penguatan akan semakin terbuka.
Sebaliknya, kegagalan merebut kembali level 80.000 dolar AS dapat membuat Bitcoin melanjutkan fase konsolidasi. Pasar kemungkinan akan menunggu katalis ekonomi makro berikutnya sebelum menentukan arah baru.
“Pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke 80.000 dolar AS. Yang lebih penting adalah apakah 80.000 dolar AS nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support,” kata Yudhono.
Ia menambahkan, sinyal bullish Bitcoin akan semakin kuat apabila perubahan level tersebut diikuti kembalinya aliran modal institusional dan membaiknya kondisi ekonomi makro.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi faktor teknikal, arus dana ETF, serta data ekonomi AS. (ant/rpi)