- Antara
Minyak Dunia Tembus US$100 Bikin Rupiah Tertekan, Geopolitik Dunia Jadi Biang Kerok
Serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia menjadi salah satu faktor yang mengurangi pasokan dan pada akhirnya memperketat pasar minyak dunia.
“Nah, sehingga apa? Membuat ketegangan yang begitu kuat, yang begitu besar. Di sinilah kilang-kilang minyak Rusia ini selalu dihantam oleh rudal-rudal Ukraina. Ini yang membuat produksi minyak di Rusia ini mengalami penurunan,” tuturnya.
Tekanan terhadap pasar energi juga datang dari kawasan Timur Tengah dan Laut Merah. Ibrahim menilai konflik yang meluas di kawasan tersebut meningkatkan risiko terhadap jalur perdagangan dan distribusi energi global.
“Kemudian di Timur Tengah sendiri, kita melihat bahwa bukan di Timur Tengah saja yang terjadi perang, tetapi di Laut Merah pun juga terjadi perang. Kita melihat bahwa saat ini ya Houthi Yaman terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Arab Saudi,” katanya.
Menurut dia, perkembangan konflik tersebut menunjukkan semakin kompleksnya peta geopolitik di kawasan. Ibrahim bahkan menilai posisi kelompok Houthi Yaman dalam konflik kawasan semakin dominan.
“Artinya apa? Bahwa pasukan darat Yaman Houthi ini pun juga sudah merangsek berbatasan. Bahwa saat ini bukan lagi Arab Saudi yang adidaya, tetapi adalah Yaman Houthi yang adidaya. Ini kemungkinan besar apa di Afrika, Yaman ini akan lebih dominan dibandingkan dengan negara-negara lainnya,” ujarnya.
Selain Eropa Timur dan Laut Merah, risiko geopolitik juga meningkat di sekitar Selat Hormuz. Ibrahim menyebut eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat di jalur strategis tersebut turut menjadi perhatian pasar minyak.
“Kemudian di Selat Hormuz sendiri, kita melihat bahwa pasukan Iran melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal perang Amerika yang kita tahu bahwa kapal-kapal perang terjadi kerusakan yang cukup signifikan. Nah, kemudian Amerika pun juga melakukan penyerangan,” katanya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Karena itu, setiap eskalasi militer di kawasan tersebut berpotensi memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global dan mendorong harga minyak semakin tinggi.
Ibrahim menilai kombinasi berbagai konflik tersebut menciptakan sentimen risiko yang kuat di pasar keuangan global.