- PTFI
130 Spesies Baru Ditemukan, Freeport Soroti Pentingnya Data untuk Jaga Ekosistem di Papua
Data mengenai jenis tumbuhan yang sesuai diperlukan agar proses pemulihan dapat dilakukan secara tepat. Dengan informasi tersebut, benih yang cocok dapat diperoleh dan ditanam kembali di kawasan yang membutuhkan rehabilitasi.
Freeport Indonesia telah melakukan kajian ekosistem dalam skala besar sejak 1997. Perusahaan juga mengumpulkan berbagai informasi dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengenai ekosistem di wilayah kerjanya.
Hasil pengumpulan dan penelitian tersebut kemudian dituangkan dalam 10 buku panduan lapangan yang membahas beragam spesies. Beberapa di antaranya mencakup burung, kupu-kupu, kepiting, dan mangrove.
Dari pembaruan data yang dimiliki, tercatat 130 spesies baru di wilayah kerja Freeport. Namun, Kukuh mengatakan masih terdapat sejumlah spesimen yang hingga kini belum dapat dideskripsikan secara pasti berdasarkan jenis spesiesnya.
"Kami juga melihat ini adalah sebuah opportunity untuk kami untuk berkontribusi luas terhadap data terutama seperti tadi yang kami sampaikan. Karena availability data itu adalah sangat hal yang sangat krusial ketika kita menyatakan pengelolaan ekosistem," urainya.
Selain kondisi alam dan ketersediaan data, faktor manusia turut menjadi tantangan dalam pengelolaan ekosistem. Kukuh menyebut aktivitas pembalakan liar yang dilakukan pihak di luar perusahaan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi.
Freeport menyebut pihak yang masuk ke wilayah perusahaan tersebut sebagai masyarakat non-karyawan. Di sisi lain, aspek keamanan di Papua juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan ekosistem.
Pelibatan Masyarakat Adat
Ketua Konsorsium Gerbangtara, Aie Natasha, dalam sesi yang sama menilai keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan ekosistem di sekitar kawasan industri memiliki peran penting.
Salah satu alasannya adalah masyarakat lokal dan masyarakat adat memiliki pengetahuan mengenai lingkungan yang diwariskan dan berkembang dalam waktu panjang. Pengetahuan tersebut dapat menjadi rujukan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem, termasuk ketika dilakukan pemulihan kawasan yang terdampak pembangunan.
"Ketika ada industri yang terbangun di sana, yang dibuka adalah tempat tinggalnya [hewan dan tumbuhan lokal], habitatnya. Rumahnya pelan-pelang hilang. Bagaimana memastikan [industri] itu berkelanjutan ketika rumahnya saja tidak bisa kita jaga? Yang bisa menjawab itu indigenous knowledge yang jauh lebih mengetahui tentang cara tumbuhan itu, cara hewan tersebut hidup dan berkembang biak," papar dia.