news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wakil Menteri ESDM Yuliot.
Sumber :
  • Istimewa

Harga Pertalite Dipastikan Tak Naik Meski Minyak Dunia 107 Dolar AS, ESDM: Eksplorasi dan Eksploitasi Kami Genjot!

Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti pertalite dan biosolar dipastikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak naik meskipun harga minyak dunia tembus 107 dolar AS per barel.
Selasa, 29 September 2026 - 13:15 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com -Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi seperti pertalite dan biosolar dipastikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak naik meskipun harga minyak dunia tembus 107 dolar AS per barel.

“Kalau untuk pertalite, yang disampaikan sama Pak Menteri (ESDM Bahlil Lahadalia), sampai dengan akhir tahun kita mempertahankan ini tidak ada kenaikan untuk pertalite, untuk BBM bersubsidi,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui setelah acara ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa.

Akan tetapi, tutur dia melanjutkan, untuk harga BBM nonsubsidi akan mengalami penyesuaian sebab mengikuti harga pasar.

Adapun penyesuaian untuk BBM nonsubsidi tersebut akan mengikuti harga rata-rata minyak dunia dalam satu bulan.

“Jadi ini kami melihat rata-rata dalam satu bulan itu kira-kira berapa, penyesuaiannya kira-kira berapa,” ucap Yuliot.

Pernyataan tersebut terkait dengan harga minyak dunia yang kian meroket akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Yuliot mengungkapkan harga minyak dunia sempat menyentuh 107 dolar AS per barel pada akhir September 2026.

Angka tersebut menunjukkan tren kenaikan setelah sempat melandai pada bulan Juni–Juli.

Purbaya Yudhi Sadewa ketika masih menjabat sebagai Menteri Keuangan menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali hingga akhir tahun dengan asumsi makro rata-rata harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) berada di level 100 dolar AS.

Berdasarkan perhitungan Peneliti sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti, rata-rata ICP Januari–September sekitar 90,6 dolar AS per barel.

Merespons kondisi tersebut, Yuliot memastikan akan melakukan percepatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) di tengah gejolak geopolitik yang menyebabkan meroketnya harga minyak dunia.

Yuliot menyampaikan pemerintah telah memetakan sejumlah lapangan migas dengan potensi produksi sekitar 2.500–3 ribu barel per hari yang akan digenjot prosesnya pada 2027 dan 2028.

Dengan demikian, lanjut dia, pemerintah dapat segera merealisasikan target 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2029–2030 untuk mewujudkan swasembada energi nasional.

“Eksplorasi dan eksploitasi ini kami akan genjot pada tahun 2027 dan 2028 sehingga target kita 1 juta barel itu bisa tercapai,” kata Yuliot.(Ant)

 

 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:34
20:26
11:49
04:30
01:21
04:42

Viral