- Istimewa
Belanja Negara 2027 Naik Jadi Rp4.106 Triliun, Defisit Tetap 2,4 Persen
Said mengatakan peningkatan target pendapatan negara, terutama dari sektor perpajakan, akan lebih ditumpukan pada pembinaan tata kelola dan penegakan hukum.
Selain itu, pemanfaatan teknologi serta pertumbuhan perpajakan alamiah dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi juga menjadi bagian dari upaya mencapai target penerimaan tersebut.
Menurut dia, perluasan basis pemajakan tetap perlu dilakukan secara hati-hati. Langkah tersebut diharapkan tidak menambah beban terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.
“Perluasan basis pemajakan juga harus berhati-hati agar tidak membebani kehidupan ekonomi rakyat,” jelasnya.
Asumsi Ekonomi Makro APBN 2027
Selain menyepakati perubahan target belanja dan pendapatan negara, pemerintah dan Banggar DPR RI juga menyepakati sejumlah asumsi dasar ekonomi makro untuk APBN 2027.
Asumsi tersebut menjadi dasar dalam penyusunan anggaran negara tahun depan. Beberapa indikator yang disepakati mencakup pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga Surat Berharga Negara (SBN), nilai tukar rupiah, hingga indikator sektor minyak dan gas.
Berikut asumsi dasar ekonomi makro APBN 2027 yang disepakati:
-
Pertumbuhan ekonomi: 6,0 persen.
-
Inflasi: 2,5 persen.
-
Suku bunga SBN tenor 10 tahun: 6,9 persen.
-
Nilai tukar rupiah: Rp17.500 per dolar AS.
-
Harga minyak mentah Indonesia (ICP): 75 dolar AS per barel.
-
Lifting minyak bumi: 612,5 ribu barel per hari.
-
Lifting gas bumi: 954 ribu barel setara minyak per hari.
Dengan kesepakatan tersebut, belanja negara APBN 2027 ditetapkan sebesar Rp4.106,26 triliun, sementara pendapatan negara mencapai Rp3.435,10 triliun. Target defisit tetap berada di level 2,4 persen terhadap PDB.