- Ilustrasi AI/ChatGPT
UNSP Bukukan Penjualan Rp 2,2 Triliun, Lonjakan Ekuitas Rp 8 Triliun, dan Targetkan Rp 3 Triliun pada 2026
Andi menambahkan bahwa seluruh operasional perkebunan dijalankan sesuai dengan regulasi keberlanjutan.
“Perseroan mengikuti protokol ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan, di antaranya kebijakan *‘zero burning’* (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan. Keberlanjutan di sawit mencakup banyak aspek *people & planet* seperti mensejahterakan petani sesuai Sustainable Development Goals *no-poverty*, *zero-waste* sesuai *Circular Economy*, *no-deforestation*, dan reduksi emisi gas rumah kaca untuk *Climate Change*,” paparnya.
Bibit Unggul
Dalam hal peningkatan efisiensi lahan, UNSP mengembangkan bibit unggul tersertifikasi yang mampu memproduksi buah sawit jauh melebihi rata-rata nasional. Jika produktivitas sawit nasional saat ini berada di kisaran 3 ton CPO per hektar per tahun, bibit unggul milik Perseroan berpotensi menghasilkan hingga 10 ton CPO per hektar per tahun dengan produksi 40 ton buah sawit per hektar dan tingkat ekstraksi CPO mencapai 25%.
Melalui pemanfaatan bibit unggul ini, perseroan tidak perlu meluaskan area lahan (*landbank*) untuk melipatgandakan produksi CPO. Langkah ini sekaligus mendukung peningkatan produksi pasokan biodiesel bagi ketahanan energi nasional.
Optimisme jangka panjang turut ditegaskan oleh Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto. Ia menggarisbawahi bahwa strategi peningkatan produktivitas yang dirancang saat ini akan memberikan dampak positif yang semakin solid dalam jangka menengah hingga panjang.
“Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkret peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan. Kami optimis, dalam jangka menengah dan panjang Perseroan akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya.