news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

BRI Peduli Kenalkan Urban Farming Berbasis Komunitas Lewat BRInita.
Sumber :
  • Istimewa

BRI Peduli Kenalkan Urban Farming Berbasis Komunitas Lewat BRInita, Ajak Jurnalis Turun Langsung Bertani di Kota

BRI Peduli kenalkan urban farming berbasis komunitas lewat BRInita di Bandung dengan mengajak 35 jurnalis turun langsung menanam dan memanen.
Jumat, 6 November 2026 - 10:53 WIB
Reporter:
Editor :

Bandung, tvOnenews.com - BRI melalui program BRI Peduli terus mendorong pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming sebagai upaya memanfaatkan lahan terbatas menjadi area produktif. Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui BRInita (BRI Bertani di Kota), program pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas yang berfokus pada ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan.

Pengenalan program tersebut dilakukan melalui rangkaian Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026 pada Jumat (30/10). Dalam kegiatan ini, BRI Peduli mengajak 35 jurnalis dari berbagai wilayah Indonesia untuk merasakan langsung aktivitas bertani di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar RW 03, Kota Bandung.

Para jurnalis berkesempatan mengikuti berbagai tahapan pertanian perkotaan bersama masyarakat setempat, mulai dari menyemai bibit, menanam, merawat tanaman, hingga memanen hasil budi daya. Kegiatan ini sekaligus memberikan gambaran mengenai penerapan urban farming yang dikelola secara gotong royong oleh masyarakat.


BRI Peduli Kenalkan Urban Farming Berbasis Komunitas Lewat BRInita. (Sumber: Istimewa)

BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar menjadi salah satu contoh pengembangan pertanian perkotaan berbasis komunitas yang dijalankan BRI Peduli bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat. Meski berada di kawasan permukiman padat, kelompok masyarakat tersebut mampu memanfaatkan lahan dengan panjang sekitar 60 meter dan lebar 5 meter untuk membudidayakan beragam tanaman.

Jenis tanaman yang dikembangkan cukup beragam, mulai dari sayuran dan umbi-umbian seperti pakcoy, kangkung, bayam, tomat, brokoli, dan ubi jalar. Selain itu, terdapat berbagai tanaman buah, di antaranya jeruk, jambu, sawo, lengkeng, belimbing, dan pisang.

Masyarakat juga menanam sejumlah tanaman herbal dan rempah yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti pandan, serai, kunyit, jahe, hingga lidah buaya.

Hasil panen dari kegiatan tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dimanfaatkan untuk mendukung program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Posyandu dan masyarakat lanjut usia. Dengan demikian, keberadaan BRInita turut memberikan manfaat sosial bagi warga di sekitar lokasi.

Untuk menunjang keberlanjutan kegiatan pertanian tersebut, BRI Peduli turut memberikan dukungan berupa sarana dan perlengkapan budi daya. Pada 2025, terdapat 16 jenis bantuan yang disalurkan, meliputi kebutuhan pengelolaan kebun, media tanam, pembibitan, hingga pengembangan vertical garden.

Dukungan tersebut kemudian diperluas pada 2026 dengan penambahan 28 jenis sarana dan perlengkapan. Bantuan itu mencakup kebutuhan budi daya tanaman, pengelolaan sampah, serta pengembangan pertanian terpadu melalui budidaya ikan dalam ember (budikdamber) dan budi daya ikan lele.

Lurah Pajajaran, Paridin, mengapresiasi kontribusi BRI dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di wilayahnya. Menurutnya, pemanfaatan lahan kosong melalui kegiatan urban farming dapat mengubah area yang sebelumnya tidak produktif menjadi ruang yang memberikan nilai tambah bagi warga.

“Urban farming menjadi salah satu solusi untuk memaksimalkan lahan kosong agar lebih produktif. Kami sangat senang karena manfaat program tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi pangan, tetapi juga dapat membuka peluang tambahan penghasilan dan usaha sekaligus memperkuat kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Kami berharap sinergi yang sudah terbangun dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

Pengalaman mengikuti kegiatan tersebut juga dirasakan oleh peserta BRI Fellowship Journalism 2026, Sylviani Salsabila Putri dari Kabar Cirebon. Ia menilai kegiatan ini memberikan perspektif berbeda bagi jurnalis karena mereka dapat menyaksikan secara langsung proses pemberdayaan masyarakat, bukan hanya memperoleh informasi melalui data atau pemaparan materi.

“Biasanya kami menerima informasi dari data, paparan, atau materi yang sudah disiapkan. Di sini kami bisa melihat langsung prosesnya, berinteraksi dengan masyarakat, bahkan ikut menanam dan memanen. Pengalaman seperti ini memberi konteks yang lebih kuat bagi kami sebagai jurnalis karena kami dapat memahami bagaimana urban farming dijalankan dan manfaatnya dirasakan oleh warga,” ujarnya.

Sementara itu, Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa BRInita merupakan salah satu bentuk pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli. Program ini mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat, penguatan ketahanan pangan, serta kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan lahan di kawasan perkotaan.

Melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam, BRI juga ingin memberikan kesempatan kepada para jurnalis untuk melihat secara langsung keterlibatan masyarakat dalam mengelola program tersebut, mulai dari proses penanaman hingga pemanfaatan hasil panen.

“Melalui kegiatan ini, para jurnalis dapat melihat langsung bagaimana masyarakat terlibat sejak proses menanam hingga panen. Hasilnya kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan keluarga, mendukung kegiatan sosial, maupun memberikan tambahan nilai ekonomi bagi warga,” ujar Dhanny.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pengelolaan BRInita juga diarahkan untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Upaya tersebut dilakukan melalui penambahan ruang hijau serta pengolahan sampah organik menjadi pupuk dan eco enzyme.

Pengembangan urban farming ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah dalam mendorong swasembada pangan dan ekonomi hijau. Program tersebut juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam aspek ketahanan pangan, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim.

Sejak pertama kali dijalankan pada 2021, BRInita telah berkembang hingga menjangkau 40 kelompok penerima manfaat yang tersebar di 17 Regional Office dan 16 provinsi. Sepanjang periode 2021–2026, program ini tercatat telah memberikan manfaat secara langsung kepada 764 orang dan menjangkau 961 penerima manfaat tidak langsung.

Dari sisi produksi, kelompok-kelompok BRInita telah menghasilkan lebih dari 31,7 ton sayur dan buah serta 4,7 ton hasil perikanan. Program ini juga mendorong pengembangan 70 produk olahan turunan dengan pendapatan kelompok mencapai hingga Rp5,2 juta per bulan.

Selain memberikan dukungan sarana dan prasarana, BRInita turut memperkuat kapasitas masyarakat melalui 62 sesi pelatihan. Materi yang diberikan mencakup praktik urban farming, pengelolaan sampah organik, hingga pengembangan produk olahan.

Adapun dari aspek lingkungan, program ini telah menghadirkan 40 titik ruang terbuka hijau dengan total luas sekitar 4.000 meter persegi. BRInita juga mencatat pengolahan 4,7 ton limbah organik, produksi lebih dari 12 ribu liter pupuk organik cair, serta efisiensi emisi gas rumah kaca sebesar 792,63 kg CO2-eq.

Berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan BRInita tidak hanya berfokus pada kegiatan bercocok tanam di kawasan perkotaan. Melalui kolaborasi dengan masyarakat, BRI Peduli berupaya menghadirkan manfaat yang lebih luas, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan, peningkatan nilai ekonomi warga, hingga terciptanya lingkungan permukiman yang lebih hijau dan berkelanjutan.

(anf)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:07
08:21
14:13
09:50
04:54
08:02

Viral