- Freepik
Produk Susu Nestlé Diduga Tercemar Bakteri Bacillus Cereus, Begini Bahayanya untuk Tubuh
Bakteri ini mampu bertahan dalam bentuk spora yang tahan terhadap panas, dingin, dan kondisi kering ekstrem.
Saat masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi, bakteri ini dapat menyebabkan keracunan makanan.
Gejala awal infeksi Bacillus cereus biasanya berupa mual, muntah, sakit perut, dan diare, yang muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi.
Dalam kasus yang lebih serius, bakteri ini dapat memicu toksikoinfeksi akibat produksi dua jenis racun: toksin cereulide (penyebab muntah dan diare) serta toksin hemolitik (penyebab kerusakan sel darah dan keracunan berat).
Bakteri ini umumnya ditemukan pada bahan makanan seperti nasi, daging, susu, keju, hingga sayuran.
Jika makanan tidak disimpan atau dimasak dengan benar, Bacillus cereus dapat berkembang biak dan menghasilkan racun berbahaya.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan pangan dan memperhatikan suhu penyimpanan makanan.
Menurut The Disease Encyclopedia, Bacillus cereus dapat menyebabkan dua tipe utama keracunan makanan:
- Tipe emetik (muntah): ditandai dengan mual hebat, muntah, dan kram perut.
- Tipe diare: menyebabkan diare berair disertai nyeri perut.
Kasus infeksi Bacillus cereus sering ditemukan di restoran dan tempat penyajian makanan massal, terutama ketika makanan dibiarkan dalam suhu ruang terlalu lama.
Bakteri ini tumbuh optimal pada suhu 5°C hingga 57°C, yang dikenal sebagai “zona bahaya” bagi makanan.
Penelitian di Tiongkok bahkan mencatat bahwa sekitar 35% makanan siap saji yang diuji positif mengandung Bacillus cereus, terutama pada produk berbasis daging dan mi beras.
Karena itu, penerapan standar kebersihan dan pengendalian suhu sangat penting. Makanan panas harus disimpan di atas 57°C (135°F), sementara makanan dingin dijaga di bawah 4°C (40°F).
Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Bacillus cereus menyebabkan lebih dari 63.000 kasus infeksi setiap tahun di Amerika Serikat, meskipun sebagian besar tidak dilaporkan karena gejalanya tergolong ringan.
Namun, pada bayi dan anak-anak, infeksi ini bisa jauh lebih berbahaya karena sistem imun mereka yang belum sepenuhnya kuat. (adk)