news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Tepung Gandum.
Sumber :
  • Pixabay/VugarAhmadov

Gluten-Free Makin Populer, Apakah Orang Indonesia Perlu Menghindarinya?

Di media sosial, gluten juga kerap dituding sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga kenaikan berat badan.
Selasa, 21 Juli 2026 - 11:50 WIB
Reporter:
Editor :

Namun, para peneliti masih memperdebatkan apakah gejala tersebut benar-benar dipicu gluten atau justru komponen lain dalam gandum, seperti fruktan.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia?
Indonesia secara historis merupakan negara dengan konsumsi beras yang jauh lebih tinggi dibandingkan gandum. 

Secara alami pun gandum tidak tumbuh, masyarakat zaman dahulu tidak mengenal tepung terigu dan lebih mengandalkan umbi-umbian serta biji-bijian lokal. 

Hingga kini, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gandum terbesar di dunia sebagai bahan baku produk berbahan gandum seperti mi instan, roti, biskuit, dan makanan cepat saji terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Meski demikian, hingga kini belum ada data nasional yang menggambarkan prevalensi penyakit celiac pada masyarakat Indonesia.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Acta Medica Indonesiana menemukan sekitar 0,61 persen pasien dengan diare kronis di Jakarta terdiagnosis menderita penyakit celiac. 

Namun, para peneliti menegaskan bahwa angka tersebut hanya berasal dari kelompok pasien tertentu sehingga belum dapat mewakili populasi Indonesia secara keseluruhan.

Para peneliti dalam jurnal Opportunities and Challenges in the Management of Celiac Disease in Asia yang diterbitkan United European Gastroenterology Journal juga menilai meningkatnya konsumsi gandum di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, kemungkinan akan membuat lebih banyak kasus penyakit celiac teridentifikasi pada masa mendatang seiring semakin baiknya fasilitas diagnosis.

Sementara itu, meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Gastroenterology and Hepatology memperkirakan prevalensi penyakit celiac yang telah dikonfirmasi melalui biopsi di Asia sekitar 0,5 persen.

Angka ini memang lebih rendah dibandingkan beberapa negara Eropa, tetapi menunjukkan bahwa penyakit tersebut bukan kondisi yang sangat langka di kawasan Asia.

Mengapa ada orang merasa lebih sehat setelah berhenti makan gluten?

Fenomena ini cukup sering ditemukan, tetapi penyebabnya belum tentu gluten. Menurut ulasan ilmiah dalam The Lancet, sebagian orang yang mengaku sensitif terhadap gluten kemungkinan sebenarnya bereaksi terhadap fruktan, yaitu jenis karbohidrat fermentabel (FODMAP) yang juga terkandung dalam gandum.

Hal ini membuat diagnosis sensitivitas gluten non-celiac menjadi lebih kompleks dibandingkan penyakit celiac.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:28
02:23
01:37
04:43
04:30
05:26

Viral