- Gambar ilustrasi AI
Viral 522 Pelajar Sidoarjo Terpapar HIV? Ini Klarifikasi Kemenkes dan Fakta Data Resminya
Rinciannya meliputi 117 kasus pada kelompok usia 0-10 tahun. Seluruh kasus pada kelompok ini berasal dari penularan ibu ke anak.
Dari jumlah tersebut, 32 anak masih menjalani terapi antiretroviral (ARV), 35 meninggal dunia, sedangkan 50 lainnya berstatus lost to follow-up atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan.
Pada kelompok usia 11-17 tahun ditemukan 60 kasus. Sebanyak empat kasus berasal dari penularan vertikal, sedangkan 56 kasus lainnya merupakan penularan horizontal yang ditemukan pada berbagai kelompok sasaran, seperti pasien tuberkulosis, laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), ibu hamil, pasangan ODHIV, pekerja seks, hingga kelompok yang faktor risikonya belum teridentifikasi.
Sementara itu, kelompok usia 18-24 tahun mencatat 1.006 kasus. Sebagian besar merupakan penularan horizontal dengan temuan terbanyak pada kelompok LSL sebanyak 521 kasus, disusul kelompok dengan faktor risiko yang belum teridentifikasi sebanyak 210 kasus.
Menurut Kemenkes, data tersebut tidak dapat diartikan sebagai lonjakan penularan HIV. Sebaliknya, angka tersebut menunjukkan semakin efektifnya program deteksi dini sehingga lebih banyak masyarakat mengetahui status kesehatannya lebih cepat.
Pemerintah Ajak Hentikan Stigma terhadap ODHIV
Kementerian Kesehatan juga terus memperkuat program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA). Selama periode 2022 hingga Juni 2026 tercatat terdapat 163 ibu hamil dengan HIV di Kabupaten Sidoarjo.
Seluruh ibu hamil didorong menjalani pemeriksaan HIV sebagai bagian dari pelayanan antenatal terpadu agar terapi antiretroviral dapat diberikan sedini mungkin sehingga risiko penularan kepada bayi dapat ditekan hingga di bawah dua persen.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA, mengingatkan bahwa HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan apabila penderita menjalani terapi secara rutin.
"HIV dapat dikendalikan dengan pengobatan yang diminum secara teratur, sehingga orang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan tetap berkontribusi bagi masyarakat," ujar Andi di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak takut menjalani tes HIV apabila memiliki faktor risiko atau mendapat rekomendasi dari tenaga kesehatan.
Menurutnya, mengetahui status HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, maupun keluarga.