- Istimewa
Elektrifikasi Tambang Indonesia, 18 Truk Listrik Sudah Beroperasi di Kaltim
Ketersediaan pasokan listrik harus disesuaikan dengan kebutuhan produksi, sementara pengisian baterai perlu dirancang agar tidak mengganggu jadwal operasional kendaraan. Perusahaan juga perlu mempersiapkan teknisi dan pengemudi yang memiliki kompetensi sesuai dengan teknologi elektrifikasi.
Kebutuhan tersebut berbeda berdasarkan jenis kendaraan yang digunakan. Kendaraan elektrik berkapasitas besar membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai sebagai prasyarat operasional. Sementara itu, pemanfaatan kendaraan listrik berukuran lebih kecil perlu mempertimbangkan tingkat penggunaan dan efektivitasnya dalam mendukung kegiatan tambang.
Dari aspek investasi, perusahaan juga perlu memperhitungkan total cost of ownership (TCO) atau keseluruhan biaya kepemilikan kendaraan. Komponen yang dihitung tidak hanya harga pembelian, tetapi juga pembangunan infrastruktur pengisian, pemeliharaan, produktivitas, serta nilai sisa kendaraan.
Dengan demikian, potensi penghematan biaya bahan bakar perlu dibandingkan dengan seluruh pengeluaran selama masa penggunaan unit untuk mengetahui kelayakan ekonominya.
Praktisi kendaraan niaga dan logistik berbasis listrik, Richo Billy Wulur, turut menyoroti pentingnya jaminan ketahanan baterai dan layanan purnajual dalam mendukung adopsi kendaraan listrik.
Salah satu skema yang dapat diterapkan adalah garansi baterai hingga delapan tahun dengan persyaratan tertentu, termasuk ketentuan penggantian apabila kapasitas baterai turun di bawah 75 persen.
Selain infrastruktur dan investasi, elektrifikasi juga membawa perubahan pada kebutuhan tenaga kerja. Industri pertambangan semakin memerlukan sumber daya manusia dengan keahlian di bidang kelistrikan, pemeliharaan kendaraan elektrik, pengelolaan energi, hingga analisis data operasional.