- Antara Foto
China Pangkas Insentif Ekspor Mobil Listrik Mulai 2027, Apa Dampaknya?
Produsen mobil kelas menengah hingga premium dinilai relatif lebih mampu menyerap tambahan beban biaya. Sebaliknya, produsen kendaraan berharga rendah dengan volume penjualan besar berpotensi menghadapi tekanan lebih berat karena margin keuntungan mereka cenderung lebih terbatas.
Situasi tersebut dapat memaksa produsen mengevaluasi kembali strategi harga, efisiensi produksi, dan target penjualan di luar negeri. Meski demikian, perubahan insentif pajak tidak serta-merta memastikan harga mobil listrik China akan naik karena keputusan harga juga bergantung pada persaingan pasar dan kebijakan masing-masing produsen.
Penyesuaian Kebijakan Ekspor
Penyesuaian insentif pajak ini berlangsung ketika China dan Uni Eropa membahas pengaturan ekspor kendaraan hibrida dan plug-in hybrid buatan China ke pasar Eropa.
Kamar Dagang China untuk Uni Eropa menyampaikan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepahaman mengenai penyesuaian ekspor kendaraan tersebut. Mengutip laporan CCTV, pembahasan itu mencakup pertumbuhan ekspor tahunan dengan mempertimbangkan volume impor kendaraan hibrida asal China yang mencapai sekitar 300.000 unit pada 2025.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kebijakan ekspor otomotif China tidak hanya berkaitan dengan insentif pajak domestik, tetapi juga dengan dinamika perdagangan bersama mitra internasional.
Sebelumnya, pemerintah China telah menerapkan penyesuaian serupa terhadap sejumlah produk energi. Mulai April 2026, China menghapus pengembalian PPN ekspor untuk panel surya. Pada periode yang sama, tingkat pengembalian pajak ekspor baterai dipangkas dari 9 persen menjadi 6 persen.
Pemerintah juga menjadwalkan penghapusan pengembalian pajak ekspor baterai mulai Januari 2027. Rangkaian perubahan tersebut memperlihatkan arah kebijakan yang semakin membatasi insentif fiskal untuk sejumlah produk berorientasi ekspor.
Pakar kendaraan energi baru dan baterai daya, Yang Weibin, menilai pengembalian PPN ekspor kendaraan energi baru berpeluang terus dikurangi seiring meningkatnya skala ekspor China. Menurut pandangan tersebut, insentif itu bahkan berpotensi dihapus sepenuhnya pada masa mendatang.
Bagi industri otomotif China, perubahan ini menjadi tantangan untuk mempertahankan daya saing di pasar global. Produsen yang selama ini mengandalkan harga kompetitif perlu menyesuaikan perhitungan biaya dan strategi ekspor, terutama untuk kendaraan dengan margin keuntungan tipis.