- Reuters/Toby Melville
Kisah Pesawat British Airways Terbang Tanpa Mesin usai Hantam Awan Abu Vulkanik, Berujung Mendarat Darurat di Halim
Jakarta, tvOnenews.com - Sejumlah operasional penerbangan di beberapa bandara terpaksa ditunda hingga Senin (7/9/2026). Hal ini tak lepas dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026.
Gunung api di Selat sunda ini sempat mengalami fase erupsi menerus selama 25 jam, mulai dari Jumat (4/9/2026), sekitar pukul 23.07 WIB dan dinyatakan berakhir pada Minggu (6/9/2026), pukul 00.04 WIB.
Setidaknya ada delapan bandar udara terpaksa menghentikan operasional sementara, mulai dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Pondok Cabe, Bandara Budiarto, Bandara Radin Inten II, Bandara Taufik Kiemas, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam.
Penutupnya ini tentu sangat mempengaruhi 1.558 penerbangan dan mengganggu perjalanan 170.000 penumpang. Terutama di Bandara Soekarno-Hatta, sekitar 963 jadwal kedatangan/keberangkatan tertunda hingga Minggu, 6 September 2026 sore.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono menilai keputusan tersebut sebagai langkah yang tepat di tegah meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia pun kembali mengulas kisah insiden perjalanan pesawat British Airways dengan jenis Boeing 747 pada 1982 silam.
"Abu vulkanik silika yang terhisap ke dalam empat mesin jet Boeing 747 meleleh dan membeku di bilah turbin. Akibatnya memicu kegagalan pembakaran mendadak yang mematikan seluruh mesin secara bersamaan," kata Daroyono dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Kisah Perjalanan Pesawat British Airways Akibat Abu Vulkanik Erupsi Gunung pada 1982
- Istimewa
Pada 24 Juni 1982, perjalanan pesawat British Airways (BA)n009 mulanya berjalan mulus setelah lepas landas dari Kuala Lumpur Malaysia untuk menuju Perth, Australia.
Dilansir dari YouTube Mayday: Air Disaster, gangguan mulai menghantam pesawat Boeing 747 saat melintasi atas Pulau Jawa, tepatnya ketika menerjang awan abu vulkanik erupsi dahsyat Gunung Galunggung, Jawa Barat.
Situasi ini mendorong penumpang pesawat melihat asap keluar dari sela-sela lubang AC di kabin. Awak kabin bahkan berupaya mengecek sumber asap tersebut meski memang saat itu penumpang masih diizinkan merokok di kabin.
Hanya berselang beberapa waktu kemudian, pesawat Boeing 747 tersebut menabrak partikel. Dampaknya bisa menyebabkan adanya gesekan bercahaya dan menimbulkan efek St Elmo's Fire (badan pesawat berkilauan mengeluarkan cahaya plasma berwarna biru).
Dilansir dari BBC, Kapten Eric Moody saat itu mengomandoi kokpit pesawat. Mulanya ia mengira pesawat menabrak awan petir jenis Cumulonimbus (Cb). Mereka berpikir tidak ada awan tersebut lantaran radar pesawat masih normal dan bersih.
Ironisnya, pesawat yang menggunakan empat mesin tersebut satu per satu mulai mati. Bahkan pesawat dari British Aiways titu kehilangan daya mesin saat berada di ketinggian 11.300 m (sekitar 37 ribu kaki) ke 3.650 m.
"Penumpang sekalian, ini kapten Anda yang berbicara. Kami mengalami sedikit masalah. Keempat mesin telah berhenti. Kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkannya kembali. Saya harap Anda tidak terlalu khawatir," ucap Moody dengan tenang saat mengumumkan ke seluruh kabin penumpang.
Pengumuman tersebut justru membuat penumpang mulai panik. Salah satu penumpang, Betty Ferguson mengungkapkan bahwa dirinya melihat api keluar dari mesin.
Ferguson mengenang, "Suasananya hampir senyap total, kecuali suara desingan itu."
Kapten Moody berusaha untuk melakukan panggilan "MayDay" ke Air Traffic Center (ATC) Jakarta. Hal ini bertujuan agar pesawat Boeing 747 tersebut melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Mulanya Moody sempat pilih mendarat di lautan alias ditching. Kondisi ini dianggap jika tak ada ruang waktu untuk menuju runway bandara di Jakarta.
Penumpang juga telah mengenakan maske oksigen dan pelampung. Pasalnya pesawat bermesin empat itu terus meluncur bebas saat kondisi mesin tanpa daya sejauh puluhan kilometer.
Kondisi tersebut terjadi kurang lebih selama 16 menit yang diwarnai penuh ketegangan. Hingga pada akhirnya, pilot berhasil menyalakan kembali mesin setelah keluar dari cengkeraman awan abu vulkanik Gunung Galunggung.
Hasil dari kerja sama tersebut, Kapten Moody bersama krunya akhirnya berhasil melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Kondisi itu berlangsung setelah bermanuver mengelilingi gunung berapi.
Menariknya, kaca kokpit sudah dalam kondisi buram total akibat pesawat bertabrakan dengan material yang mulanya dikira dampak masuk ke dalam awan petir.
Moddy dan dua kopilotnya kembali ke bandara pada keesokan harinya. Hal tersebut bertujuan untuk melakukan pengecekan terhadap pesawatnya yang seperti telah disemprot pasir parah.
Cat pesawat Boeing tersebut terlihat sudah terkelupas. Bahkan mesin jet keluaran Rolls Royce juga harus dibongkar dalam agenda investigasi yang dipimpin mantan insinyur Rolls Royce, Malcolm Grayburn.
Graybun terkejut setelah pesawat cargo diterbangkan ke Inggris dengan tujuan untuk dibongkar dan diteliti. Sebagian besar mesin pesawat tersebut telah tergores parah.
Mesin Pesawat Tersumbat Abu Vulkanik
Berdasarkan hasil analisis forensik dari pihak Rolls Royce, Grayburn melihat empat mesin jet dalam pesawat tersebut mengalami penyumbatan debu halus seperti serpihan batu dan pasir.
Semua hasil tersebut didokumentasikan melalui analisis fotografi hingga dari banyak analisis laboratorium. Penelitian kemudian berlanjut bahwa puing-puing tersebut adalah abu vulkanik mengandung polimorf silika kristalin (SiO2) kristobalite.
Para penumpang dan awak mengetahui beberapa hari setelah penerbangan paling mencekam tersebut. Momen malam penerbangan itu bersamaan dengan letusan besar Gunung Galunggung yang jaraknya hanya 160 kilometer dari tenggara Jakarta, bahkan membuat 60 ribu orang dievakuasi.
Sejarah tersebut menunjukkan betapa bahayanya abu vulkanik dan gas dari letusan gunung berapi pada kinerja penerbangan pesawat, mulai dari gangguan atau mati mesin, erosi pada komponen avionik dan mesin, penyumbatan filter dan saluran pipa, penurunan kualitas bahan bakar, abrasi pada kaca depan dan bagian tepi depan pesawat, serta korosi pada permukaan logam akibat adanya tetesan asam.
(hap)