- YouTube
Teolog Ini Justru Bela Sosok Dedengkot Panji Gumilang dan Al Zaytun Soal Santri Nyanyi Havenu Shalom Aleichem, Faktanya...
tvOnenews.com - Pimpinan Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang, beberapa waktu lalu sempat membuat heboh karena mengajak santrinya nyanyi Havenu Shalom Aleichem.
Sontak aksi Panji Gumilang ini menimbulkan kontroversi di masyarakat.
Banyak pihak yang menentang aksi Panji Gumilang tersebut karena menganggap nyanyain tersebut berkaitan dengan agama tertentu.
Namun ada juga yang mendukung apa yang dilakukan Panji Gumilang.
Seperti dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Bambang Noorsena, berikut penjelasan tentang kontroversi Panji Gumilang yang ajak santrinya nyanyi lagu Havenu Shalom Aleichem.
Mula-mula Bambang Noorsena menjelaskan tentang penggunaan bahasa utama pada masa Yesus.
"Pada zaman Yesus itu minimal ada 3 bahasa," jelas Bambang Noorsena.
Bahasa yang pertama adalah bahasa Ibrani yang digunakan orang Yahudi di zaman Yesus untuk membaca Al Kitab, Taurat, dan kitab nabi-nabi.
Bahasa yang kedua adalah bahasa aram atau aramaic, yang merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan Yesus dan para muridnya.
Selanjutnya bahasa ketiga adalah bahasa Yunani yang kala itu menjadi bahasa umum di Kekaisaran Romawi layaknya bahasa Inggris saat ini.
Ada juga bahasa latin yang hanya digunakan elit tertentu untuk keperluan administrasi kerajaan.
Dari pemaparan ini, Bambang Noorsena ingin menegaskan bahwa ada keserumpunan antara bahasa-bahasa yang digunakan dalam agama tertentu.
Bambang Noorsena menyayangkan adanya ribut-ribut soal penggunaan bahasa tertentu di Indonesia, terutama soal kontroversi salam Yahudi yang diserukan oleh Panji Gumilang ke santrinya di Al Zaytun.
"Tapi kenapa di Indonesia jadi heboh, baru-baru ini ada pesantren besar pimpinannya Panji Gumilang, sekarang sedang dipanggil," ujar Bambang Noorsena.
"Sampai Pak Mahfud MD pun juga menyuruh segera menuntaskan kasus ini gara-gara dia dianggap menistakan agama, penodaan agama," lanjutnya.
Bambang Noorsena memang tak mau mengurusi urusan agama orang lain namun di sini ia hanya ingin bersuara karena berkaitan dengan keimanannya.
"Tentu saya tidak perlu mengurusi urusan agama orang lain, tetapi sejauh itu terkait dengan iman kita, kita harus bersuara," kata Bambang Noorsena.