- tvOnenews.com/Taufik Hidayat/YouTube Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Telepon Langsung Pekerja Asal Sumedang di Papua Usai Video Aduan Viral
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi aduan sejumlah pekerja asal Sumedang yang mengaku terlantar di Papua dan meminta dipulangkan ke daerah asal mereka.
Aduan tersebut sebelumnya viral di media sosial setelah para pekerja menyampaikan keluhan mereka secara langsung kepada Dedi Mulyadi melalui sebuah video.
Dalam video yang juga diunggah di kanal YouTube pribadinya, Dedi Mulyadi mendengarkan keluh kesah para pekerja yang berasal dari Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Telepon Langsung Pekerja Asal Sumedang di Papua Usai Video Aduan Viral. (Sumber: YouTube Kang Dedi Mulyadi)
Mereka mengaku berangkat ke Papua setelah dijanjikan pekerjaan di proyek infrastruktur, namun situasi yang dihadapi di lapangan tidak sesuai dengan harapan.
Para pekerja tersebut awalnya ditawari pekerjaan oleh seseorang bernama Denny atau yang dikenal dengan sebutan Den Bray. Mereka mengaku hanya diantar hingga Bandara Soekarno-Hatta sebelum akhirnya berangkat sendiri ke Papua.
Setibanya di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, mereka diminta membantu pembangunan sejumlah fasilitas seperti tempat penyimpanan senjata dan dapur umum di area Kodim Yahukimo. Namun, karena mandor yang merekrut mereka tidak ikut ke Papua, para pekerja merasa ditinggalkan tanpa kepastian.
Dalam percakapan tersebut, Dedi Mulyadi mencoba menggali informasi mengenai kondisi kerja dan sistem pembayaran yang dijanjikan kepada para pekerja.
“Kemudian Pak mandor Jayapuranya ngasih tahu ke bapak, sehari bapak kerja berapa bapak diupahnya?” tanya Dedi Mulyadi.
Perwakilan warga Sumedang menjawab bahwa mereka dijanjikan upah harian sebesar Rp250 ribu hingga Rp200 ribu.
Dedi Mulyadi kemudian menanyakan sistem pembayaran yang dijanjikan kepada mereka. Para pekerja mengatakan bahwa upah seharusnya dibayarkan setiap dua minggu sekali. Namun hingga minggu ketiga, mereka mengaku belum menerima pembayaran.
Meski begitu, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa situasi tersebut perlu dipahami secara objektif. Menurutnya, para pekerja sebenarnya tetap akan dibayar sesuai pekerjaan yang telah dilakukan, hanya saja proses pembayaran kemungkinan menunggu mekanisme proyek.
“Artinya gini, kita kan harus memisahkan antara bapak sakit dengan bapak bekerja. Bapak bekerja mah berarti bapak dibayar dong, cuma belum dibayarkan karena waktu kerjanya belum dua minggu, benerkan?” ujar Dedi Mulyadi.
Para pekerja pun mengiyakan penjelasan tersebut. Namun mereka mengaku menghadapi masalah lain yang membuat kondisi mereka semakin sulit, yakni kesehatan.
Perwakilan pekerja mengungkapkan bahwa beberapa dari mereka terserang malaria sehingga kondisi fisik menjadi lemah. Hal ini membuat mereka tidak lagi fokus untuk bekerja.
Selain itu, mereka juga mengaku telah mencoba menghubungi Den Bray yang sebelumnya menjanjikan pekerjaan tersebut. Namun janji untuk memberikan tiket kepulangan hingga kini belum juga terwujud.
Dalam percakapan tersebut, Dedi Mulyadi juga menanyakan harapan para pekerja yang mengadu kepadanya. Para pekerja dengan jujur menyampaikan keinginan mereka untuk pulang ke kampung halaman.
“Terus terang aja Pak, kami sama anak-anak ini kami mau pulang aja Pak,” kata salah satu pekerja asal Sumedang.
Para pekerja menjelaskan bahwa selain karena kondisi kesehatan, mereka juga merasa tidak aman berada di daerah tersebut karena dikenal sebagai wilayah rawan konflik.
Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa keputusan bekerja di daerah tertentu harus dipertimbangkan dengan matang sejak awal.
Meski begitu, Dedi Mulyadi tetap berusaha mencari solusi agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di antara warga Jawa Barat lainnya yang bekerja di wilayah yang sama.
“Saya kan tidak boleh bertindak yang membuat kecemburuan. Warga Jabar yang di situ yang bekerja ada berapa orang?” ujar Dedi Mulyadi.
Ia kemudian meminta agar dilakukan pendataan terlebih dahulu terhadap warga Jawa Barat lainnya yang berada di lokasi tersebut.
“Jadi saya minta coba cek dulu warga Jabar yang ada di sana berapa orang, biar kalau mau ada pemulangan sekalian dengan semua warga Jabar yang di sana yang mau pulang,” kata Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya untuk satu kelompok saja, tetapi harus mempertimbangkan kepentingan warga Jawa Barat lainnya.
“Jangan hanya bapak saja, nanti begitu bapak pulang yang lain iri pengen pulang gitu loh Pak. Jadi bukan kepentingan bapak saja yang saya layani, jadi saya juga harus melayani kepentingan warga Jabar yang lain di sana yang nanti pengen pulang juga gitu loh,” jelasnya.
Menindaklanjuti aduan tersebut, Dedi Mulyadi kemudian berkoordinasi dengan Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, untuk memfasilitasi kepulangan para pekerja.
Pemerintah Kabupaten Sumedang memastikan proses pemulangan akan dikawal mulai dari Bandara Dekai menuju Sentani, kemudian dilanjutkan ke Bandara Soekarno-Hatta hingga para pekerja kembali ke daerah asal mereka dengan selamat.
Bupati Sumedang periode 2025–2030, Dony Ahmad Munir, juga menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk membantu proses kepulangan warga Kecamatan Wado tersebut agar mereka dapat kembali berkumpul bersama keluarga dalam kondisi sehat dan aman.
(anf)