- tvOneNews
Terungkap Sifat Asli Suami Siri Cucu Mpok Nori, Kakak Korban: Ngobrol Saja Nadanya Tinggi
tvOnenews.com - Fakta baru kembali terungkap dalam kasus tragis yang menimpa Cucu Mpok Nori. Kali ini, kakak korban membongkar sifat asli suami siri yang dinilai sulit dipahami, bahkan saat berbicara sehari-hari pun kerap menggunakan nada tinggi.
Dalam wawancara yang tayang di kanal YouTube Intens Investigasi, kakak korban mengungkap bahwa komunikasi dengan pelaku memang terbilang terbatas sejak awal.
Menurutnya, perbedaan bahasa menjadi salah satu kendala utama. Hal ini membuat keluarga tidak terlalu sering berinteraksi dengan pelaku, sehingga sulit memahami kepribadiannya secara mendalam.
Cucu Mpok Nari, Suami Siri, dan Kakak Korban. (Sumber: Kolase tvOnenews.com / tvOneNews & Intens Investigasi)
“Kita jarang komunikasi sama dia karena kan bahasa. Jadi kadang kalau ngobrol saja nadanya tinggi. Jadi kita enggak tahu dia lagi marah atau apa. Emang logatnya bahasa sana memang agak tinggi,” ujar kakak korban.
Ia juga menambahkan bahwa cara berbicara pelaku yang cenderung bernada tinggi membuat keluarga merasa enggan untuk menanggapi lebih jauh.
“Jadi ngobrol sama kita kalau enggak nadanya agak tinggi, ya kita juga malas nanggapinnya karena kita juga enggak ngerti bahasanya gitu,” lanjutnya.
Selain itu, kakak korban mengaku sempat memiliki firasat kurang baik terhadap pelaku, terutama setelah terjadi konflik pada momen tertentu sebelumnya. Bahkan, saat pelaku memutuskan untuk tinggal tidak jauh dari korban, rasa khawatir itu semakin kuat.
“Menduga karena pas lagi Nisfu Syaban itu, yang pas dia itu tangan, saya bilang ya sudah kan dia pergi tuh, sudah alhamdulillah pergi,” ungkapnya.
Namun, kekhawatiran tersebut semakin meningkat ketika pelaku ternyata tinggal di lokasi yang berdekatan dengan korban.
“Nah terus pas tahu dia pindahnya di depan, saya agak-agak ini nih, wanti-wanti nih takutnya ya namanya kan dia nekat bisa nyakitin dirinya dia. Saya takutnya gitu doang. Ya ternyata ya kecolongan juga saya,” tambahnya.
Sebagai kakak, ia sempat menyarankan korban untuk pindah tempat tinggal demi menghindari potensi konflik. Namun, saran tersebut tidak diikuti karena korban merasa sudah nyaman dengan lingkungan tempat tinggalnya.
“Makanya saya bilang adik saya untuk pindah ke sini dulu, enggak usah ngontrak di situ. Tapi karena kata adik saya sudah nyaman ngontrak di situ. Nanti kalau teman-teman yang main kan enak gitu kata dia,” tuturnya.
Meski demikian, kakak korban tidak bisa memaksakan kehendaknya, mengingat adiknya ingin hidup mandiri.
“Saya juga enggak bisa ngelarang, namanya dia mau mandiri kan,” katanya.
Lebih lanjut, kakak korban juga menilai adanya kecenderungan sifat posesif dari pelaku terhadap korban, meski tidak diungkapkan secara gamblang sejak awal.
“Iya, posesif kayaknya ke arah situ,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa selama ini korban tidak pernah bercerita secara langsung mengenai adanya kekerasan fisik dalam hubungan tersebut.
“Kalau istilahnya pas lagi dia punya uang, adik saya mah sering diajak misalnya ke mal. Pokoknya apa pun yang dia mau pasti dibeliin sama pihak cowok,” katanya.
Meski begitu, kakak korban mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui secara pasti dinamika hubungan keduanya, terutama saat terjadi pertengkaran.
“Tapi ya begitu. Jadi walaupun dia berantem, kita kan enggak ngerti ya namanya dia cekcok berdua. Nadanya memang tinggi, apalagi ngobrol biasa. Apalagi ngobrol ini, saya juga enggak tahu,” jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa korban tidak pernah mengeluhkan atau menceritakan adanya kekerasan yang dialaminya.
“Enggak ada,” tegasnya.
Pengakuan ini semakin memperjelas gambaran hubungan antara Cucu Mpok Nori dan suami siri yang diwarnai keterbatasan komunikasi, perbedaan budaya, serta indikasi sifat posesif yang perlahan memicu konflik.
(anf)