- Tangkapan Layar YouTube Pemkab Subang
Dedi Mulyadi Didatangi Tim Peneliti, Sebut Sunda Bukan Sekadar Suku Tapi Sumber Pengetahuan
tvOnenews.com - Perdebatan tentang makna budaya Sunda kembali menguat seiring upaya pelestarian kearifan lokal di Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa Sunda bukan hanya sekadar identitas suku, tetapi juga mencakup nilai, ideologi, hingga sumber pengetahuan yang luas. Pandangan tersebut ia sampaikan saat menerima kunjungan tim peneliti yang tengah mengembangkan kajian kebudayaan Sunda.
Dedi Mulyadi dikenal sebagai tokoh yang berasal dari suku Sunda. Ia lahir di Subang, Jawa Barat, pada 12 April 1971, dan dikenal sebagai politikus sekaligus budayawan yang sangat kental dengan nilai-nilai budaya Sunda.
Dalam perjalanan kariernya, ia kerap menekankan pentingnya kearifan lokal, salah satunya melalui konsep “Pok Pek Prak”, yaitu filosofi manajemen kepemimpinan yang diperkenalkan saat menjabat dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam amanat di Gedung Sate pada momen halal bihalal 2026.
Baru-baru ini, Dedi Mulyadi didatangi tim peneliti yang terlihat dalam unggahan Instagram pribadinya pada 9 April 2026.
Pertemuan tersebut membahas proyek besar penyusunan ensiklopedia kebudayaan Sunda yang melibatkan peneliti dari Indonesia dan Inggris serta kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat. (Sumber: Kolase tvOnenews.com / Instagram Dedi Mulyadi)
“Rekan-rekan Chronicles, kami bersama dengan beberapa peneliti Indonesia dan Inggris bekerja sama dengan Pemprov Jabar, dengan Kang Dedi Mulyadi, untuk membentuk sebuah proyek Ensiklopedia Ki Sunda, ensiklopedia tentang pemikiran, buah karya dari kebudayaan Sunda,” ujar Bagus Muljadi dari tim peneliti ensiklopedia.
Dalam kesempatan tersebut, tim peneliti juga meminta pandangan Dedi Mulyadi terkait arah dan harapan dari proyek tersebut.
“Sekarang bersama dengan Kang Dedi, kita mau tanya pendapatnya, kira-kira aspirasi ke depannya seperti apa?” kata Bagus Muljadi.
Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Sunda selama ini sering disempitkan hanya sebagai identitas suku, padahal memiliki dimensi yang jauh lebih luas.
“Aspirasinya adalah bahwa Sunda kan selama ini hanya dipahami sebagai suku, tidak dipahami sebagai nilai, tidak dipahami sebagai ideologi, dan tidak dipahami sebagai sumber pengetahuan,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia kemudian menjelaskan bahwa proyek ensiklopedia tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan pemahaman bagi generasi mendatang tentang warisan leluhur Sunda sebagai sistem pengetahuan yang utuh.
“Nah ensiklopedia ini memberikan jawaban terhadap generasi ke depan bahwa leluhurmu itu adalah hamparan pengetahuan yang bisa segera diturunkan menjadi nilai filosofi, menjadi nilai ideologi, menjadi nilai teknokrasi,” lanjut Dedi Mulyadi.
Menurutnya, hubungan antara filosofi, ideologi, dan teknokrasi tidak dapat dipisahkan dari akar kebudayaan.
“Ini yang akan kita kejar ke depan karena tidak pernah akan ada teknokrasi tanpa filosofi, tidak ada filosofi tanpa ideologi, tidak ada ideologi tanpa kebudayaan,” jelasnya.
Tim peneliti juga menyampaikan bahwa hasil kajian ini akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan disebarluaskan ke tingkat internasional.
“Betul, dan dalam waktu singkat ke depan kita akan terjemahkan ini dalam bahasa Inggris, kita akan diseminasikan ini di luar Indonesia,” kata Bagus Muljadi.
Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pertukaran pengetahuan budaya yang tidak bersifat satu arah.
“Okay, jadi jangan hanya orang Sunda yang mengenal kebudayaan Inggris, orang Inggris juga dulu datang ke Sunda belajar kebudayaan ya kan,” ucap Dedi Mulyadi.
(anf)