- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Sidak Jalan Penuh Sampah, Dedi Mulyadi Tunjuk Warga Jadi Penanggung Jawab Kebersihan, Gajinya Segini!
tvOnenews.com - Aksi tegas kembali ditunjukkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di salah satu ruas jalan provinsi.
Dalam sidak tersebut, Dedi menemukan kondisi jalan yang dipenuhi sampah daun serta terganggu oleh sebuah mobil bak yang terparkir di pinggir jalan.
Mobil tersebut ternyata milik seorang warga yang berprofesi sebagai pengangkut sampah.
Sopir tersebut mengaku kendaraannya sedang mengalami kerusakan sehingga harus dipinggirkan.
Kondisi ini membuat arus lalu lintas sedikit terganggu, sekaligus menjadi perhatian langsung dari Dedi Mulyadi.
Dalam percakapan yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya, Dedi mulai menggali kondisi ekonomi sopir tersebut.
Ia menanyakan sistem kerja hingga penghasilan yang didapatkan setiap bulan.
Diketahui, sopir tersebut mendapatkan bayaran sekitar Rp1,5 juta per bulan dari satu wilayah RT. Karena ia menangani dua RT, total penghasilan tetapnya mencapai Rp3 juta per bulan.
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Namun, di sisi lain, beban finansial yang harus ditanggung cukup besar.
Mobil pengangkut sampah yang digunakan ternyata masih dalam status kredit dengan cicilan mencapai Rp4,8 juta per bulan.
“Cicilan mobil berapa?” tanya Dedi.
“Rp4.800.000, Pak,” jawab sopir tersebut.
Kondisi ini membuat Dedi heran, karena secara hitungan sederhana, penghasilan dari pengangkutan sampah tidak mencukupi untuk membayar cicilan kendaraan.
“Nomboknya dari mana?” tanya Dedi lagi.
Sopir tersebut kemudian menjelaskan bahwa ia memiliki pekerjaan tambahan, yakni mengelola parkir yang menghasilkan pendapatan harian sekitar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu, terutama di malam hari.
Selain itu, ia juga terkadang mendapatkan penghasilan tambahan dari jasa pindahan.
Tak hanya itu, sopir tersebut juga terlibat dalam usaha pengelolaan sampah bersama keluarganya.
Sampah yang diangkut dibawa ke kawasan Muhammad Toha, kemudian disortir untuk diambil nilai ekonominya, terutama dari plastik.
“Daripada orang tua saya tidak kerja, jadi kita pilah sampah, ada penghasilan tambahan,” ungkapnya.
Mendengar penjelasan tersebut, Dedi melihat adanya potensi sekaligus permasalahan dalam sistem pengelolaan sampah yang belum tertata dengan baik. Ia pun langsung menawarkan solusi konkret.
Dedi meminta sopir tersebut untuk berhenti dari aktivitas parkir dan fokus menjadi petugas kebersihan di lokasi tersebut.
“Kalau saya kasih tugas, Bapak jadi penyapu sampah di sini, mau?” tanya Dedi.
“Siap, Pak. Dengan senang hati,” jawab sopir itu.
Tak hanya memberikan pekerjaan, Dedi juga menetapkan gaji bulanan yang lebih stabil bagi sopir tersebut.
“Gajinya Rp4,2 juta. Jadi penanggung jawab kebersihan di sini. Tidak usah markiran lagi, lebih baik jadi tukang sapu,” tegas Dedi.
Selain itu, mobil yang dimiliki sopir tersebut tetap akan dimanfaatkan untuk mendukung pengangkutan sampah di area tersebut, sehingga tetap produktif.
Langkah ini menunjukkan pendekatan berbeda yang dilakukan Dedi Mulyadi dalam menangani persoalan di lapangan.
Tidak hanya menegur, tetapi langsung memberikan solusi yang menyentuh akar masalah, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi masyarakat.
Dengan menjadikan warga sebagai penanggung jawab kebersihan, ia berharap tercipta rasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, penghasilan yang lebih stabil diharapkan mampu membantu meningkatkan kesejahteraan warga. (adk)