news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dedi Mulyadi di KUA.
Sumber :
  • YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL

Gubernur Dedi Mulyadi Sulap KUA Jadi Estetik, Ubah Mindset Anak Muda Pilih Nikah Sederhana Bebas Utang

Dedi Mulyadi ubah KUA jadi estetik, dorong anak muda pilih nikah sederhana tanpa utang. Fasilitas ditingkatkan agar pernikahan lebih nyaman dan sakral.
Sabtu, 18 April 2026 - 19:46 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menarik perhatian publik melalui langkah inovatifnya dalam mengubah wajah Kantor Urusan Agama (KUA).

Melalui kunjungan yang dibagikan di media sosial pribadinya, Dedi Mulyadi menunjukkan komitmennya dalam mendorong perubahan pola pikir generasi muda terkait pernikahan.

Dalam kunjungan tersebut, Dedi Mulyadi berdialog langsung dengan pengurus KUA dan menanyakan jumlah pasangan yang menikah setiap bulannya.

Dari informasi yang didapat, rata-rata terdapat sekitar 40 pasangan yang melangsungkan pernikahan dalam satu bulan.

“Menurun? Berartikan orang sudah mulai mempertimbangkan pendidikan, kedewasaan, serta kemampuan keuangan,” ujar Dedi Mulyadi.

Pernyataan tersebut menyoroti fenomena yang mulai berkembang di masyarakat, di mana pernikahan tidak lagi hanya dipandang sebagai momen seremonial, tetapi juga sebagai keputusan besar yang memerlukan kesiapan matang, baik secara mental maupun finansial.

Tidak hanya berdialog, Dedi juga meninjau langsung fasilitas balai nikah yang tersedia di KUA.

Ia melihat masih adanya kekurangan dalam aspek kenyamanan, seperti keterbatasan daya listrik serta belum optimalnya fasilitas pendingin ruangan.

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi
Sumber :
  • YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL

Sebagai bentuk perhatian, Dedi berencana untuk meningkatkan fasilitas tersebut.

Ia menyatakan akan menambah daya listrik, memasang AC, serta bahkan siap menanggung biaya listrik agar pelayanan di KUA menjadi lebih nyaman bagi masyarakat.

Lebih jauh, Dedi Mulyadi juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang memaksakan diri menggelar pesta pernikahan besar meski kondisi keuangan belum memadai.

Ia mengonfirmasi hal tersebut kepada pengurus KUA, yang membenarkan bahwa fenomena tersebut masih sering terjadi.

“Banyak yang memaksakan untuk hajat, setelah itu malah bingung, akhirnya punya tanah sedikit dijual. Itu yang saya katakan kena gempa, Pak,” ujar pengurus KUA.

Dedi kemudian menjelaskan dampak panjang dari keputusan tersebut.

Menurutnya, tidak sedikit pasangan yang akhirnya menghadapi masalah ekonomi setelah pernikahan, bahkan berujung pada perceraian.

"Setelah itu anak perempuannya melahirkan. Kemudian laki-lakinya cerai karena alasan ekonomi atau kemudian punya yang lain, akhirnya si cucunya jadi beban ibunya," ungkap KDM.

Ia juga menyoroti beban yang harus ditanggung oleh perempuan dalam kondisi tersebut.

Mulai dari beban setelah pernikahan, kehamilan, melahirkan, hingga mengurus anak seorang diri ketika terjadi perceraian.

Sebagai solusi, Dedi Mulyadi berinisiatif menjadikan KUA sebagai tempat pernikahan yang tidak hanya sederhana, tetapi juga estetik dan layak secara visual.

Ia ingin menghapus stigma bahwa menikah di KUA terkesan kurang menarik atau memalukan.

“Nanti saya sumbang baju pengantin. Jadi yang menikah di sini boleh pakai baju pengantin yang ada," ujarnya.

Selain itu, ia juga berencana menata ulang ruangan balai nikah agar terlihat lebih modern, nyaman, dan Instagramable, sehingga dapat menarik minat generasi muda untuk menikah secara sederhana.

"Kita cobalah nanti ruangan ini kita tata secara estetik Menjadi ruangan nikah yang memadai,” pungkasnya.

Langkah ini diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat, khususnya anak muda, bahwa pernikahan tidak harus identik dengan pesta mewah dan biaya besar.

Dengan fasilitas yang lebih baik di KUA, pasangan tetap bisa menjalani momen sakral tanpa tekanan finansial.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Dedi Mulyadi juga memberikan bantuan sebesar Rp10 juta untuk meningkatkan daya listrik di KUA tersebut.

Bantuan ini menjadi langkah awal dalam mewujudkan fasilitas yang lebih representatif.

Upaya ini menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam merencanakan pernikahan, sekaligus mendorong terciptanya keluarga yang lebih siap secara ekonomi dan mental. (adk)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:49
01:11
00:57
01:39
01:00
01:34

Viral