- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Respons Santai Dedi Mulyadi Dikritik Penataan Gedung Sate Tak Ada Manfaat: Nanti Hasilnya Bisa Dinikmati
- ilustrasi Wikipedia
Ia mengingatkan bahwa meskipun bangunan tersebut dibangun pada masa kolonial Belanda, tenaga kerja dan sumber daya yang digunakan berasal dari Indonesia.
“Walaupun dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, pekerjanya orang Indonesia dan sumber dananya juga dari Indonesia,” ungkapnya.
Penggabungan kawasan Gedung Sate dan Gasibu sendiri bukanlah hal baru bagi Dedi Mulyadi.
Ia mengaku pernah melakukan hal serupa saat menjabat di Purwakarta, yakni dengan menyatukan kawasan Alun-Alun Kian Santang dan halaman pendopo.
Pengalaman tersebut, menurutnya, juga sempat menuai kritik di awal. Namun seiring waktu, hasil penataan tersebut justru bisa dinikmati oleh masyarakat luas.
“Awalnya diprotes, tapi sekarang hasilnya bisa dinikmati bersama,” katanya.
Dedi optimistis bahwa penataan kawasan Gedung Sate dan Gasibu akan memberikan dampak positif, tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga ekonomi.
Ia berharap kawasan tersebut bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.
“Semoga ketika disatukan, hasilnya bisa dinikmati bukan hanya warga Bandung, tapi warga Jawa Barat, Indonesia, bahkan warga dunia yang berkunjung ke kota Bandung,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa peningkatan kualitas ruang publik dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar, terutama melalui sektor pariwisata dan UMKM.
Dengan pendekatan yang tetap menghargai nilai sejarah dan budaya, Dedi Mulyadi menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian bisa berjalan beriringan, selama dilakukan dengan perencanaan yang matang dan tujuan yang jelas bagi kepentingan masyarakat luas. (adk)