- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Dedi Mulyadi Buka-Bukaan Sumber Dana Rp15 Miliar untuk Penataan Gedung Sate yang Tuai Perdebatan
“Uangnya dari mana? Ini dari realokasi anggaran. Perjalanan dinas gubernur dihapus Rp1,5 miliar, baju dinas dihapus, pemeliharaan mobil dinas dihapus, pembelian mobil dinas juga dihapus. Semuanya dihapus,” ungkapnya.
Menurut Dedi, dana yang sebelumnya dialokasikan untuk kebutuhan operasional pejabat dialihkan untuk kepentingan yang lebih luas, yakni penataan ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat.
Ia pun melontarkan pertanyaan retoris yang cukup menyentil publik terkait pilihan penggunaan anggaran tersebut.
“Ayo pilih mana? Pilih uangnya saya habiskan tapi tidak ada yang marah, atau pilih saya gunakan untuk kepentingan yang bermanfaat baik hari ini maupun ke depan?” katanya.
Dedi menegaskan bahwa sebagai pemimpin, ia harus berani mengambil keputusan yang mungkin tidak selalu populer.
Ia mengaku lebih memilih kebijakan yang memberikan manfaat jangka panjang meskipun harus menghadapi kritik.
“Saya lebih memilih penataan halaman meskipun harus menuai kritik, dibanding saya menikmati untuk kepentingan pribadi tanpa kritik,” tegasnya.
Lebih jauh, Dedi juga menyampaikan bahwa kritik dari masyarakat merupakan bagian penting dalam proses pembangunan.
Ia memandang kritik sebagai bentuk kepedulian publik terhadap jalannya pemerintahan.
“Pemimpin harus memilih di antara dua, bukan mencari senangnya saja. Harus mau juga dikritik, karena kritik adalah bentuk kecintaan,” pungkasnya.
Polemik ini pun terus menjadi perhatian publik, terutama terkait bagaimana pemerintah mengelola anggaran dan menentukan prioritas pembangunan di tengah berbagai kebutuhan masyarakat yang beragam. (adk)