- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Dedi Mulyadi Temui Truk Berbobot 42 Ton di Jalan Provinsi, Langsung Minta Kualitas Jalan Diperbaiki
tvOnenews.com - Sosok Dedi Mulyadi kembali menyita perhatian setelah menemukan langsung truk bermuatan berat yang melintas di jalan provinsi.
Bukan sekadar pelanggaran biasa, kendaraan tersebut diketahui membawa beban hingga 42 ton, jauh melampaui kapasitas jalan yang seharusnya. Situasi ini pun langsung memicu kekhawatiran serius soal keselamatan infrastruktur.
Peristiwa itu terjadi saat Dedi Mulyadi meninjau kondisi lapangan dan mendapati truk pengangkut semen yang diduga overload.
Dari hasil pengecekan, beban mobil mencapai sekitar 10 ton, sementara muatan semen yang dibawa mencapai 32 ton.
Total keseluruhan pun menyentuh angka 42 ton, angka yang dinilai sangat berisiko untuk jalan provinsi.
Melihat kondisi tersebut, Dedi Mulyadi langsung mempertanyakan kapasitas jalan yang dilintasi kendaraan berat itu.
Ia menegaskan bahwa perhitungan beban jalan seharusnya menjadi perhatian utama, bukan sekadar dibiarkan tanpa pengawasan.
“Ini semen kan 32 ton, dengan mobilnya 42 ton. Saya nanya, beban jalan provinsi yang dilewati berapa? Kan harus dihitung,” ujar Dedi Mulyadi dalam instagram pribadinya (3/5/2026).
Dari keterangan di lokasi, diketahui bahwa kapasitas maksimal jalan provinsi yang dilalui hanya sekitar 8 ton.
Artinya, kendaraan tersebut melampaui batas secara signifikan. Kondisi ini dinilai berpotensi mempercepat kerusakan jalan, bahkan memicu risiko yang lebih besar.
Tak hanya menyoroti overload, Dedi Mulyadi juga menekankan perlunya perubahan sistem dalam pengelolaan jalan.
Ia menilai bahwa penggunaan jalan harus disesuaikan dengan fungsinya agar tidak terjadi kerusakan yang terus berulang.
“Makanya saya bilang, jalan itu harus dibagi tiga, satu jalan untuk pariwisata, jalan untuk pertanian, dan jalan untuk industri,” tegasnya.
Menurutnya, khusus untuk jalur industri, kualitas jalan harus ditingkatkan agar mampu menahan beban kendaraan berat.
Standar jalan provinsi yang saat ini masih terbatas dinilai sudah tidak relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Ia bahkan mengingatkan potensi bahaya yang bisa terjadi jika kondisi ini terus diabaikan, terutama pada infrastruktur seperti jembatan yang memiliki batas kekuatan tertentu.
“Jangan sampai nanti jembatannya ambrol. Kita mah enggak pernah ngitung, tahu-tahu terjadi bencana aja,” ungkapnya.